Prestise pendidikan online memang masih kurang dibandingkan dengan metode pendidikan tradisional. Masih banyak yang mengira bahwa mereka yang belajar online masih rendah derajatnya dibandingkan dengan mereka yang datang ke kampus. Saya tidak menafikan bahwa perguruan tinggi tradisional yang mewajibkan tatap muka secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda. Mahasiswa dapat berinteraksi secara langsung satu sama lain. Pengalaman sosial inilah yang mungkin tidak didapat dari metode pendidikan online.

Namun pandemi telah merubah banyak hal. Koran the New York Times bahkan memuat berita tentang bangkitnya MOOC yang dulu hampir punah. Orang berlomba-lomba kepada kursus dan pendidikan online untuk berbagai alasan. Selain mengurangi kebosanan, belajar online juga berguna untuk meningkatkan keahlian di tengah naiknya angka pengangguran akibat pandemi.

Adanya kewajiban menjaga jarak juga menjadi tantangan tersendiri bagi banyak lembaga pendidikan tradisional. Perguruan-perguruan tinggi di Barat saat ini banyak yang was-was karena berkurangnya jumlah mahasiswa yang hendak belajar di perguruan tinggi. Pasalnya, kewajiban menjaga jarak berakibat pada berkurangnya aktivitas kampus, bahkan kuliahpun dialihkan menjadi kuliah online. Di sisi lain, biaya yang harus dibayar oleh si mahasiswa masih sama. Dua kondisi inilah yang menjadikan kondisi belajar di perguruan tinggi kurang menggiurkan bagi calon mahasiswa baru.

Pendidikan online memang bukan untuk semua orang. Sebagian orang masih senang dengan metode “disuapi”. Sedangkan metode belajar online sangat menekankan inisiatif dari si mahasiwa/murid itu sendiri. Dalam jangka panjang, saya melihat bahwa pendidikan online ini akan membawa kesenjangan pengetahuan dan keterampilan yang sangat lebar. Mereka yang tekun meraup pengetahuan secara online, memiliki kemungkinan untuk berkembang pesat. Mereka yang hanya menunggu untuk disuapi, bakalan jauh tertinggal.

Saya tidak mengatakan bahwa pendidikan tradisional akan hilang dengan segera. Untuk saat ini gelar akademik dari pendidikan tradisional masih merajai. Hanya saja, ilmu pengetahuan dan keahlian sudah bukan lagi monopoli mereka yang memiliki gelar akademis dari lembaga pendidikan tradisional. Pendidikan online telah mendemokratisasikan proses pembelajaran. Siapapun dapat belajar hukum internasional, Fisika Quantum dan ‘Data Science’ hanya dengan memiliki akses internet.

Saat ini, yang menjadi penghalang antara murid/mahasiswa online dan murid tradisional hanyalah formalitas. Orang yang menerima ijazah dari pendidikan online masih dianggap rendah dibandingkan mereka yang menerima ijazah dengan metode pendidikan tradisional. Yang menjadi pertanyaan penting adalah sejauh mana hal ini akan terus berlangsung. Di tengah dunia yang terus bergerak, dimana keahlian lebih dihargai, dimana dunia pekerjaan mengalami digitalisasi, memiliki gelar akademik dari pendidikan tradisional menjadi tanda tanya besar ketika pengetahuan dan keterampilan yang sama dapat ditempuh dengan pendidikan online.

Sejauh pengalaman sosial di kampus, siapa yang masih memerlukan itu semua ketika Tik Tok dan seabreg media sosial lainnya bertebaran di genggaman tangan.