Sejak kecil saya sering termenung mempertanyakan kenapa negara Indonesia tidak sepopuler negara-negara lain. Tentu saja kata populer kala itu masih merupakan konsep yang mengawang-ngawang. Populer dalam hal apa masih belum begitu jelas. Hanya yang jelas, ingin rasanya Indonesia seterkenal Jepan atau Amerika. Seringkali berita-berita kecil yang menyebutkan nama Indonesia, langsung membuat saya bergairah. Hal tersebut masih terbawa-bawa hingga sekarang. Dimanapun dan kapanpun, ketika nama Indonesia disebut di media internasional, mata dan pikiran saya langsung terfokus pada berita tersebut.

Saya nampaknya tidaklah sendiri. Sentimen yang saya rasakan dirasakan juga oleh orang Indonesia lainnya. Di forum tanya jawab yang terkenal seperti Quora sampai muncul pertanyaan demikian “Mengapa Indonesia kurang terkenal di dunia internasional?”. Saya sudah tidak lagi terkejut jika hal ini menjadi perasaan yang dirasakan secara nasional.

Kurang terkenalnya Indonesia di mata dunia akan lebih terasa lagi ketika tinggal di luar negeri. Orang sering bertanya dari mana saya berasal. Ketika jawabannya adalah Indonesia, hampir secara figuratif saya melihat kepala mereka mengepul, mencari-cari dimana letak Indonesia atau apa yang terkenal dari Indonesia.

Sekali atau dua kali menjelaskan tentang Indonesia mungkin tidak jadi soal. Tapi ketika harus menjelaskan berkali-kali kadang mengesalkan juga. Atau lebih parah lagi ketika orang langsung loncat menebak asal negara saya tanpa bertanya lebih dulu. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada negara-negara serumpun di Asia tenggara, sering kali saya jengkel ketika mereka menebak saya dari Filipina, Thailand, Malaysia dan melupakan “gajah” besar dari Asia Tenggara.

Tentunya tidak semua orang ignorant dengan Indonesia. Banyak juga yang tahu Indonesia meskipun hanya sekedar permukaannya saja. Misalnya Indonesia negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar. Negara dengan mayoritas muslim terbanyak. Dan terakhir mungkin kita harus bersyukur pada Bali yang sedikit banyaknya mengangkat citra Indonesia di mata dunia. Yang terakhir ini seringkali menjadi kasyaf, penyingkapan besar bagi banyak orang bahwa Bali terletak di sebuah negara yang jarang mereka dengar, Indonesia.

Kurang terkenalnya Indonesia di mata dunia mungkin ada nilai positifnya. Seorang penjawab dari Quora, yang menjawab pertanyaan di atas menyebutkan bahwa Indonesia kurang terkenal karena negara kita bukanlah negara yang penuh dengan konflik, terpuruk atau masuk kategori negara gagal. Jadi bersyukurlah jika kita sering tidak disebut di berita internasional. Tidak ada gunanya negara kita terkenal jika kondisinya seperti negara-negara di Timur Tengah, atau masuk negara kelas pariah.

Argumen yang lebih positif datang dari akademisi kenamaan Dr. Elizabeth Pisani yang menulis buku khusus tentang Indonesia. Dalam salah satu video yang diunggah oleh TED, Dr. Pisani mengatakan bahwa demokrasi dan desentralisasi yang sukses di Indonesia adalah penyebab kenapa negara kita tidak atau kurang terkenal di mata dunia. Meskipun sedikit membingungkan, namun argumennya cukup persuasif dan membuat saya cukup tercengang. Ada benarnya juga. Jika Amerika dan negara-negara barat berambisi mengekspor demokrasi dengan tujuan menciptakan perdamaian, maka Indonesia adalah produk nyata bagaimana ambisi itu terwujud. Meski demikian, Indonesia tidaklah mengkopi playbook demokrasi seratus persen dari negara-negara barat.

Sebenarnya ada banyak penjelasan lain mengapa Indonesia kurang terkenal di mata dunia. Itu semua berasal dari mulai letak geografis, sejarah sampai dengan aspek sosial budaya. Saya masih ingat ketika waktu duduk di sekolah dasar dulu bahwa memiliki letak yang strategis karena diapit oleh dua benua dan dua samudera. Meskipun kesannya megah, namun ternyata letak yang strategis tersebut tidak menyumbang banyak. Sebagai contoh, akibat manajemen yang salah selama berpuluh-puluh tahun kita tidak menjadi hub bagi bisnis dan perdagangan. Posisi strategis tersebut diraih oleh negara tetangga kita Singapura.

Argumen lainnya dapat disimpulkan dari kurangnya sumber peradaban yang mendunia. Bangsa kita tidak memiliki leluhur peradaban seperti Han yang menjadi cikal bakal China modern, Persia yang menjadi cikal bakal Iran, Romawi dan Yunani yang menjadi cikal bakal negara-negara barat dan seterusnya. Saya tidak mengatakan bahwa Indonesia sama sekali rootless atau tidak memiliki akar sejarah sama sekali. Sebaliknya, banyak sekali bukti sejarah, dari mulai artifak sampai tengkorak yang menunjukan asal muasal nenek moyang kita. Tapi adakah diantara orang Indonesia yang masih mengingat atau setidaknya membaca karya-karya punjangga masa lalu. Jujur saja kita tidak memiliki karya klasik yang levelnya setara dengan analek atau Odyssey. Saya ingin sekali jika karya klasik seperti Babad Tanah Jawi dijadikan bacaan wajib, sama seperti karya-karya klasik penulis Inggris yang menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah di sini.

Bagaimana dengan imperium? Dahulu kita memiliki kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit. Keduanya merupakan kerajaan besar yang sifatnya transnasional pada masanya. Ada dua argumen kenapa kedua imperium tersebut tidak membuat kita terkenal di mata dunia. Pertama, karakter dari Indonesia yang memiliki berbagai macam suku bangsa. Sedangkan kedua kerajaan di atas hanya mewakili salah satu suku saja. Akibatnya, rasa bangga tersebut tidak terbagi secara merata di mata orang Indonesia. Argumen lainnya adalah, kerajaan-kerajaan besar tersebut telah lama menghilang, jauh sebelum Indonesia modern terwujud. Lebih parah lagi kita terjatuh pada masa gelap yang namanya kolonialisme yang menimbulkan rasa inferior. Jika saja masa kemegahan tersebut berakhir kemarin sore seperti Turki Usmani atau kerajaan Inggris, mungkin saja rasa bangga tersebut masih melekat dan membuat kita terkenal di mata dunia.

Argumen terakhir yaitu tidak adanya agama atau filosofi besar yang mendunia yang berasal dari nusantara. Saya tidak menafikan adanya agama-agama lokal di Indonesia. Tapi perlu diingat impact yang ada tidaklah sama derajatnya dengan Hindu dari anak benua India, Konfusianisme dari China, Islam dari Arabia dan seterusnya.

Tapi semua hal yang saya sebutkan di atas merupakan produk masa lalu. Kita memiliki sedikit ruang untuk dapat mengubahnya. Jika Indonesia ingin menjadi populer di mata dunia, maka energi kita harus difokuskan pada masa kini dan masa depan. Yang lebih penting lagi adalah memastikan bahwa kita populer dalam hal yang positif, bukan hal yang buruk seperti konflik, krisis dan kekacauan.