Perbedaan paling mencolok antara usia muda dan usia saya sekarang (yang belum masuk kategori tua, tapi sudah cukup dibilang dewasa) adalah semakin sedikitnya waktu luang. Saya kadang berpikir itu hanya perasaan saya saja. Tapi tidak. Kenyataannya, waktu luang yang saya miliki memang sangat sempit sekali.

Persoalan mengatur waktu adalah topik yang sudah banyak dibicarakan. Dari mulai training motivasi sampai dengan buku -buku self-help. Tak terhitung banyaknya pembahasan bagaimana pentingya kita mengatur waktu.

Dulu, saya menganggap pembahasan manajemen waktu ini sebagai angin lalu saja. Penting, namun tidak begitu mendesak. Fokus saya adalah selama saya dapat membagi waktu dengan seimbang maka persoalan manajemen waktu sudah selesai. Seimbang dalam artian dapat mengalokasikan waktu untuk keluarga, teman, pekerjaan dan lingkungan lainnya.

Namun sekarang, saya betul-betul merasakan bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga. Setelah merasakan untuk pertama kalinya bekerja di akhir pekan demi mengejar target, saya mulai merasakan betapa tidak banyak waktu yang saya punya.

Setelah dikurangi waktu tidur, bekerja, commuting ternyata sisa waktu yang ada sedikit sekali. Padahal diluar hal-hal yang esensial tadi masih  ada urusan penting lain yang masih harus saya kerjakan. Salah satunya adalah belajar.

Di dunia yang terus bergerak maju dengan sangat cepat, tugas belajar adalah kewajiban utama setiap manusia yang hidup di abad ini. Lengah sedikit saja maka ada banyak hal baru yang terlewatkan. Kewajiban belajar ini adalah salah satu aktivitas utama yang juga turut menyedot kuota waktu yang saya miliki.

Tetapi di sisi lain, saya masih tetap manusia biasa. Saya juga masih butuh hiburan, bersosialisasi, dan segudang aktivitas lainnya yang tetap menjaga saya menjadi manusia yang normal. Hanya saja,  alokasi waktu untuk yang terakhir ini porsinya semakin mengecil dan seringkali harus saya korbankan demi aktivitas yang utama tadi. 

Kadang saya berpikir persoalan waktu ini adalah persoalan ekonomi-sosial belaka. Mereka yang paling peduli dan paling kejepit dalam soal membagi waktu ini adalah kelas menengah seperti saya. Yang berambisi untuk menikmati hal yang duniawiah, namun tidak memiliki banyak wasilah seperti kaum satu persen. Don’t get me wrong, saya tidak mengatakan bahwa kaum satu persen pekerjaannya cuma bersenang-senang saja. Dari  literatur-literatur yang saya baca mereka juga tidak kalah sibuknya. Bahkan mereka harus sampai mempekerjakan orang untuk mengatur jadwal sehari-hari. Lalu bedanya dimana?

Ini yang mengantarkan saya pada pemikiran selanjutnya. Perbedaan besar antara mereka yang memiliki kekayaan dan mereka yang masih sedang mengejarnya adalah yang berduit melibatkan duitnya untuk mengatur waktu. Misalnya mereka mampu mendelegasikan pekerjaan remeh-temeh kepada orang lain. Sehingga sisa waktu yang ada dapat digunakan untuk aktivitas lain yang mereka pikir jauh lebih penting, termasuk aktivitas yang sifatnya leisure. Sementara saya masih all in one. Memikirkan tugas kantor, assignment, belanjaan, cucian, dan menulis di blog ini.

Namun perbedaan terbesar antara kaum satu persen dengan kelas menengah adalah: Kaum satu persen dengan kekayaannya dapat memilih aktivitas apa saja yang mereka  sukai, termasuk didalamnya pilihan karir atau bisnis. Sementara  kita harus puas menerima apa saja yang ada di depan mata sebagai mata pencaharian. Karena bagi kelas menengah cuma ada dua pilihan: kerja atau kelaparan. Dapat disimpulkan bahwa kelimpahan  adalah virtuous circle yang terus melahirkan kekayaan. Dan sebaliknya kekuarang adalah vicious circle yang terus melahirkan kemiskinan.

Akhir kata, saya benar-benar berharap-harap cemas dengan datangnya era otomatisasi. Harapan terbesar saya adalah, era ini dapat membebaskan saya dari tugas-tugas printilan yang tidak penting dan membosankan. Idealnya semua serba otomatis dari mulai saya bangun tidur sampai tidur lagi. Dengan demikian saya dapat mencurahkan energi saya untuk kreativitas. Tapi kekhawatiran saya adalah otomatisasi menyikat lebih dulu mata pencaharian saya  karena dianggap repetitif dan tidak terlalu penting.