Robert_Kagan_Fot_Mariusz_Kubik_02sudah sejak lama saya terpukau oleh para begawan politik internasional seperti Fukuyama, Huntington, Zakaria dan Kagan. The End of History dan The Clash of Civilizations adalah dua buku favorit yang saya gandrungi. Membaca kedua buku tersebut ibarat membaca cerita yang epik, namun serius dan nyata.

Fukuyama dalam bukunya yang fenomenal, The End of History, meramalkan bahwa demokrasi liberal akan menjadi pemenang terakhir dari pertarungan ideologi-ideologi yang ada. Jika pembaca memperhatikan konteks ketika buku tersebut ditulis, tentunya pembaca tidak akan merasa heran kenapa Fukuyama berpendapat demikian. Buku tersebut keluar sekitar tahun 1992. Tidak lama setelah tembok Berlin runtuh. Jadi pada waktu itu ada semacam hype di Barat yang menganggap bahwa Kapitalisme telah menang, dan Demokrasi Liberal akan mendominasi dunia.

Namun, banyak dari para pemikir di barat yang tidak sependapat dengan ramalan Fukuyama. Salah satu pemikir terkenal yang tidak sependapat, yang namanya sempat melambung di Indonesia adalah Samuel Huntington lewat bukunya The Clash of Civilizations. Uniknya, saya justru mengenal Huntington, jauh lebih dulu sebelum saya mengenal tulisan Fukuyama tentang The End of History. Nama Huntington pertama kali saya dengar dari sebuah majalah Islam (Sabili). Huntington sempat booming di kalangan islamis di Indonesia karena pemikirannya yang secara tidak langsung mengamini adanya benturan antara peradaban Islam dan peradaban lainnya, khususnya Barat.

Tesis Huntington kemudian diikuti oleh para pemikir seperti Fareed Zakaria dan Robert Kagan. Melalui Zakaria saya mengenal adanya konsep demokrasi illiberal. Saya belum sempat membaca bukunya yang lain yang berjudul Post-American World,  yang mungkin lebih mengena jika dikaitkan dengan tulisan Fukuyama. Sedangkan Robert Kagan, saya baru saja menamatkan salah satu bukunya kemarin yang berjudul “The Return of History and The End of Dream“.  Buku yang terakhir yang saya baca ini lebih terdengar seperti “wake up call” tentang kondisi dunia yang ternyata jauh dari yang diimpikan. Tentunya ini bukan “wake up call” bagi seluruh dunia, melainkan bagi Amerika yang dominasinya di kancah dunia mulai memudar.

Sedikit biografi, Robert Kagan adalah seorang sejarawan sekaligus pemikir Neokonservatif yang cukup berpengaruh. Dia juga menjabat sebagai senior fellow di sebuah Think Tank kenamaan di Amerika, The Brookings Institutions. Tulisannya banyak bertebaran di berbagai media masa.

Judul buku yang ditulis oleh Kagan tersebut sangat menohok karena membantah secara keseluruhan tesis Fukuyama tentang akhir sejarah. Kagan berpendapat bahwa sekarang ini ada banyak aktor (baik negara ataupun non-Negara) di panggung dunia yang mulai bergeliat menunjukan kekuatannya masing-masing. Mulai dari aktor-aktor lama seperti Rusia dan China, sampai dengan non-State actor seperti gerakan radikal Islam yang menurut Kagan masih terus bermimpi mewujudkan entitas politik. Kagan ingin menegaskan bahwa dominasi Amerika saat ini menghadapi berbagai penantang baru. Komunisme mungkin sudah tamat, tapi dunia tidak serta merta merengkuh Kapitalisme dan Demokrasi Liberal

Membaca The Return of History karangan Kagan saat ini terasa ada yang kurang komplet. Buku tersebut ditulis sekitar tahun 2008. Tahun yang cukup untuk menggambarkan dunia yang multipolar. Namun masih kurang untuk menggambarkan dunia yang semakin terfragmentasi. Kagan bukan hanya gagal dalam mengantisipasi munculnya ISIS, tapi juga munculnya kekuatan-kekuatan regional serta bangkitnya populisme.

Namun satu hal yang dapat dipetik dari The Return of History ini adalah tesisnya tentang divergensi. Jika tesis ini terbukti benar, maka masa depan akan dipenuhi oleh berbagai macam entitas sosial, ekonomi dan politik yang beraneka warna. Masing-masing memiliki karakter uniknya sendiri. Bagi saya tesis divergensi ini jauh lebih masuk akal dan lebih mendekati kebenaran ketimbang tesis konvergensi seperti yang diramalkan oleh Fukuyama dalam The End of History.

Masyarakat dunia tidak akan mengalami penyeragaman. Masing-masing negara akan berusaha tampil memamerkan keunikannya. Hal ini adalah kenyataan alamiah. Evolusi membuktikan bahwa pohon kehidupan selalu tumbuh dengan berbagai cabang. Segala upaya untuk memaksa umat manusia menjadi seragam, apapun motifnya, akan mengalami kegagalan.