united-kingdom-union-jack-flag

Beberapa bulan terakhir ini saya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemukim tetap (PR) di Kerajaan Inggris. Ada banyak sekali dokumen yang harus dipersiapkan. Dokumen-dokumen tersebut berkaitan dengan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi permanent resident di Inggris. Umumnya adalah bukti-bukti kemampuan si pelamar untuk tinggal di Inggris tanpa menjadi beban para pembayar pajak.

Di antara banyaknya berbagai persyaratan tersebut, ada satu persyaratan unik yang harus dilampirkan dalam aplikasi. Yaitu persyaratan lulus tes LITUK, atau “Life in The UK test“. Ini merupakan persyaratan wajib bagi calon pemukim (PR), dan bagi mereka yang mau menjadi warga negara.

Persyaratan ini dapat dibilang gampang-gampang susah. Gampang karena si pelamar hanya diwajibkan untuk mengerjakan 24 soal saja. Semuanya berkaitan dengan sejarah, sistem pemerintahan dan kehidupan sehari-hari di Inggris. Cara bookingnya pun mudah. Dapat dilakukan secara online dan cukup membayar 50 Pound saja. Susahnya cuma satu: banyak sekali materi yang harus dipelajari.

Bayangkan saja, Inggris merupakan negara dengan kekayaan sejarah yang, menurut saya, luar biasa banyak pernak-perniknya. Dalam buku materi tes yang sedang saya daras sekarang misalnya ada cerita sejarah bagaimana dinasti di Inggris terbentuk. Ada juga sejarah yang menguraikan istri-istri dan keturunan dari raja Henry VIII. Kalau diibaratkan, mungkin seperti WNA yang mau menjadi PR di Indonesia, kemudian diwajibkan untuk lulus tes dengan soal: Sebutkan siapa saja istri-istri Raden Wijaya dan keturunannya?

Saya sempat bertanya tentang konten yang termaktub dalam buku kehidupan di Inggris ini kepada beberapa rekan orang Inggris asli. Banyak dari mereka yang tidak hapal dengan sejarah mereka sendiri. Namun hal ini dapat dimaklum. Hal serupa dapat terjadi di Indonesia. Jika saya bertanya secara acak kepada orang Indonesia, siapa saja para perumus UUD 1945? atau apa alasan terjadinya perang bubat? Tentunya akan banyak pula yang kebingungan. Namun, bagi orang Indonesia yang terbiasa belajar dengan cara menghapal, ujian seperti ini mungkin bukan hal yang terlalu sulit untuk dilakukan. Hanya saja, kemampuan saya untuk menghapal materi satu buku sudah mulai kendor.

Dari berbagai materi yang banyak tersebut, ada satu materi yang sampai sekarang tetap lengket di kepala saya, yaitu soal nilai-nilai keInggrisan atau “British Values“. Materi ini tetap menempel di dalam kepala saya bukan karena kontennya yang sedikit dan ditempatkan di bab awal, namun karena isinya yang eye -cathing¬†dan nampak familiar. Dalam buku yang saya baca sekarang, British Values terdiri dari lima cabang, yaitu:

  1. Demokrasi
  2. Aturan berdasarkan hukum
  3. Kebebasan Individu
  4. Toleransi terhadap mereka yang berbeda iman dan keyakinan, dan terakhir
  5. Ikut berpartisipasi dalam kehidupan komunitas

British Values ini mengingatkan saya dengan Pancasila. Keduanya merupakan ringkasan cerminan dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di kedua negara. Bedanya, Pancasila dirumuskan secara resmi sebagai ideologi oleh para pendiri bangsa di Indonesia, dan dimuat dalam konstitusi. Sedangkan British Values nampaknya tumbuh secara organik dan hanya diakui secara de facto sebagai cerminan kehidupan dan budaya di Inggris, bukan sebagai ideologi.

Perbedaan ini jelas memiliki konsekuensi yang berbeda. Pancasila menempati posisi tertinggi dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Mereka yang secara terbuka ingin menggantinya dengan ideologi atau paham lain dapat dijerat hukum. Sedangkan di Inggris orang dapat menganut agama atau ideologi apa saja. Orang hanya akan dijebloskan ke penjara jika tindakan atau ucapannya dapat mengganggu ketertiban umum. Oleh karena itu, tidak heran jika Inggris sering menjadi tempat pelarian bagi para pembangkang politik, ‘Political Dissidents‘. Mulai dari Karl Marx sampai Omar Bakri.

Perbedaan antara Pancasila dan British Values ini tentunya bukan untuk membandingkan mana yang lebih unggul. Keduanya memiliki merit yang berbeda karena mencerminkan pola budaya dan peradaban yang berbeda pula. Sila ketuhanan yang maha esa adalah cerminan dari masyarakat Indonesia yang relijius. Namun bagi mereka yang memilih untuk tidak mempercayai tuhan, sila ini terdengar agak sumbang. Sedangkan British Values, meskipun dapat mentolerir mereka yang tidak beragama, agak sedikit kerepotan ketika dihadapkan dengan mereka yang menganut nilai-nilai yang bertentangan dengan British Values itu sendiri. Misalnya, beberapa waktu terakhir ini, Inggris melarang masuk para pembicara yang dianggap menganut pandangan ekstrim. Hal ini menimbulkan perdebatan yang sengit antara mereka yang percaya dengan kebebasan berbicara, dengan mereka yang mementingkan harmoni dan keamanan.

Dalam hati saya bertanya, apakah warga negara asing yang hendak menetap di Indonesia juga diwajibkan untuk mempelajari tentang sejarah, pemerintahan dan kehidupan di Indonesia secara umum? Dan pertanyaan itu berkembang lebih jauh lagi, apakah negara kita memiliki panduan tentang gambaran umum kehidupan di Indonesia bagi warga asing dan seterusnya? *I really would like to know*. Meskipun ujian tentang kehidupan di Inggris tersebut hanya sekadar ringkasan, namun bagi pendatang baru seperti saya, itu membantu memahami identitas negara yang saya tempati sekarang.