Front_cover_of_Constitution_of_the_Communist_Party_of_China_2007Pelajaran penting dari tugas coursework yang dapat diambil ternyata bukan menghasilkan karya tulis dengan kualitas yang super. Melainkan proses yang harus dilewati ketika menulis essai tersebut. Selama saya melakukan riset-riset untuk tugas essai saya, saya merasa bukan hanya keahlian dalam melakukan riset saja yang bertambah, melainkan juga pengetahuan tentang subjek yang sedang diteliti.

Disamping itu juga, keahlian-keahlian lain pun turut meningkat. Misalnya kemampuan mengemukakan argumen dalam bahasa Inggris, manajemen waktu dan penelitian dan lain sebagainya. Setelah menyelesaikan dua essai dalam waktu yang berdekatan, saya masih merasa belum puas dengan hasil yang saya tulis. Namun, saya merasa puas sekali dengan proses penelitian yang saya lakukan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika menyelami secara dalam subjek yang sedang diteliti. Mungkin ini kenikmatan yang sering dirasakan oleh para akademisi dan peneliti di perguruan tinggi, yang bagi orang luar nampak kering dan hambar. Bagi masyarakat awam, kehidupan akademis nampak terlihat membosankan karena setiap hari harus berjibaku dengan subjek-subjek yang rumit dan bikin pusing tujuh keliling. Tapi bagi mereka yang benar-benar menikmati proses belajar, melakukan penelitian adalah kenikmatan tersendiri yang tiada taranya.

Salah satu essai yang saya tulis pada termin ini adalah tentang konstitusi RRC. Tugas ini saya tulis sebagai tugas akhir untuk mata kuliah komparasi konstitusi. Saya secara sengaja memilih topik konstitusi RRC karena memang tertarik dengan politik dan pemerintahan RRC sudah sejak lama.

Seperti biasa, sebelum menceburkan diri ke dalam penelitian, saya menimbang-nimbang topik mana yang akan dipilih. Karena bukan saja mempertimbangkan bahan bacaan yang banyak, melainkan juga karena banyaknya topik yang ditawarkan. Dan seperti biasa, lagi-lagi topik yang disodorkan oleh convenor tidak sedikit.

Saya sempat tertarik untuk mengulas tentang Uni-Eropa, karena selain terkait dengan Brexit, topik ini juga sudah sering saya jumpai melalui media masa. Politico EU adalah salah satu website langganan saya dalam mendapatkan berita terbaru soal internal affairs Uni-Eropa. Namun kendala yang saya hadapi dengan topik ini adalah: subjek tentang Uni-Eropa ibarat hutan belantara yang sangat luas dan lebat. Saya kebingungan sendiri untuk memulainya. Harus dari mana dulu? Apakah harus dimulai dari isu pecahan? Monetary Union kah? Fiscal Union kah? Free movement kah? Atau menulis dengan POV menyeluruh? Topik EU bagi saya terlihat sangat eksotik, namun sulit untuk disentuh.

Topik lain yang juga sempat terpikir adalah topik tentang konstitusi Amerika (USA). Saya sudah lama tertarik dengan politik dalam negeri di Amerika: Kiri dan Kanan, Progresif dan Konservatif, dan seterusnya. Namun di luar dugaan, saya kehilangan minat untuk menulis tentang Amerika. Bukan karena saya sudah menguasai tentang topik ini, namun karena konstitusi Amerika nampak sangat familiar. Saya merasa tidak perlu untuk mencurahkan banyak tenaga ke dalam bentuk penelitian untuk mendalami soal ini.

Pilihan akhirnya jatuh pada konstitusi China. Berita tentang China selalu menghiasi media massa. Namun sedikit sekali pengetahuan saya tentang internal politik negara ini. Topik ini saya pilih juga karena kena trigger dengan adanya kabar Xi Jinping yang akan menjadi presiden “seumur hidup”.

Selama melakukan penelitian tentang konstitusi RRC, saya kembali membaca sejarah bagaimana China modern terbentuk. Dimulai dari dinasti terakhir sampai dengan era Xi Jinping sekarang. Dulu saya sering berandai-andai jika China tetap mempertahankan feodalismenya dalam bentuk kerajaan, apa yang akan terjadi? Saya berpikir mungkin China akan menjadi lebih modern dari sekarang, karena tidak harus melewati tragedi kelaparan dan revolusi budaya. China mungkin akan lebih dulu dalam mengadopsi berbagai infrastruktur ekonomi-politik barat, namun juga tidak kehilangan karakternya sebagai bangsa Timur. Kurang lebih gambaran saya adalah seperti Jepang, namun lebih montok.

Dalam penelitian tentang konstitusi RRC ini juga tersingkap sejauh mana konsistensi ajaran Marxisme-Leninisme dipraktikan di China. Ini merupakan penyingkapan (Kasyaf) terbesar bagi saya. RRC rupanya sangat konsisten dalam menerapkan Marxisme-Leninisme, khususnya dalam konsep single party system atau partai punggawa yang menjalankan roda pemerintahan sosialis. Peranan PKC atau Partai Komunis China sangatlah besar dalam politik dan pemerintahan di RRC.

Lazimnya, konstitusi di sebuah negara merupakan bentuk hukum tertinggi yang sangat sakral. Karena, konstitusilah yang menjadi dasar terbentuknya berbagai lembaga negara, menguraikan tugas-tugas lembaga negara serta hak dan kewajiban warga negara dan seterusnya. Pendeknya, konstitusi merupakan blue print sebuah negara yang darinya muncul kekuatan yang dimiliki oleh badan-badan publik. Setidaknya ini yang kita miliki di Indonesia.

Tetapi, ini berbeda dengan di RRC. Di sana, partai lah yang menempati posisi tertinggi. Konstitusi hadir sebagai alat untuk melegitimasi kebijakan partai. Partai yang berwenang untuk menggambarkan blue print (konstitusi)yang darinya muncul berbagai bentuk lembaga publik dan hak dan kewajiban warga negara. Tentunya perlu digarisbawahi bahwa ini bukan persoalan benar atau salah. Bahwa RRC tidak mengikuti model Demokrasi Liberal ala barat: Benar. Namun apakah model tersebut sudah pasti salah: belum tentu. Terlepas dari berbagai kritikan, seperti yang kita lihat, model single party system yang diterapkan oleh RRC ternyata sangat efektif sekali dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun apakah model tersebut cocok ditiru oleh bangsa-bangsa lain? belum tentu juga.

Dalam ilmu hukum konstitusi, model konstitusi RRC ini seringkali disebut sebagai fenomena konstitusionalisasi, yang merupakan lawan dari konstitusionalisme. Perbedaan di antara keduanya sangatlah lebar. Konstitutionalisme (Constitutionalism) dalam artiannya yang singkat adalah pemerintahan berdasarkan hukum (Rule of Law). Sedangkan konstitutionalisasi adalah fenomena dimana rezim yang berkuasa membuat semacam undang-undang tertulis, namun dalam kenyataannya jauh dari nilai-nilai dan spirit konstitusi. Boleh dibilag konstitusi ada hanya sebagai pajangan saja (window dressing).

Fenomena konstitusionalisasi ini seringkali membuat dilema rezim otokratik yang berkuasa. Di satu sisi, Partai Komunis membutuhkan konstitusi untuk melegitimasi kekuasaannya. Namun di sisi lain ada dorongan yang kuat untuk menjalankan mandat yang tertuang dalam konstitusi secara konsisten. Misalnya mandat untuk melindungi hak-hak warga. Dari sini, muncul berbagai gerakan konstitusionalisme. Di RRC sendiri terdapat berbagai gerakan, khususnya gerakan intelektual, yang terkait dengan konstitusi ini. Ada yang mendukung konstitusionalisme ala Barat. Ada yang memilih untuk melakukan sintesis antara ideologi Sosialisme dan konstitusionalisme. Dan terakhir, ada yang secara terang-terangan menentang berbagai bentuk pengaruh luar terhadap model konstitusi yang dijalankan di RRC.

Mempelajari konstitusi perpolitikan negeri tirai bambu ini terasa seperti memasuki dimensi baru. Saya sudah akrab dengan model konstitusi di dunia Barat. Karena konstitusi kita merupakan derivasi dari model konstitusi di Barat maka mempelajari konstitusi-konstitusi Barat sudah bukan hal yang asing lagi. Begitu juga dengan konstitusi-konstitusi di dunia Islam dengan visi religiusnya. Namun, konstitusi-konstitusi yang terilhami oleh ajaran Marxisme-Leninisme jelas merupakan barang yang sama sekali baru.

Pelajaran yang saya ambil dari mata kuliah komparasi konstitusi ini adalah: setiap bangsa memiliki aspirasi yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dari konstitusi yang dimiliki oleh bangsa-bangsa tersebut. Dengan adanya berbagai macam visi, tidak dapat disangkal lagi bahwa divergensi adalah masa depan umat manusia.