background-1044195_960_720Saya baru saja bangun ketika membaca status seorang teman di media sosial tentang adanya kejadian teror di Surabaya. Ketika membaca status di gawai, langsung seketika itu juga mulut saya terasa kering. Belum lama ini kita dikejutkan dengan kasus sandera di Mako Brimob. Kini disusul dengan kejadian lain yang memilukan, serangan Bom yang dilakukan oleh satu anggota keluarga yang melibatkan anak-anak, dengan sasaran korban orang yang sedang beribadah di gereja. Perasaan semuanya bercampur aduk tidak karuan.

Namun yang tidak kalah membuat mual perasaan adalah membaca status para apologist. Setiap kali terjadi serangan teror, masyarakat di Indonesia terbelah ke dalam dua kubu. Pertama mereka yang secara terang-terangan mengutuk serangan teror sebagai perbuatan barbar dan tidak islami. Kelompok kedua adalah mereka yang sepertinya in denial, menganggap kejadian teror tersebut sebagai bukan bagian dari Islam. Namun di sisi lain, mereka juga masih memiliki kecenderungan apologetic yang sangat kuat. Kenapa? Karena sebagian dari kelompok ini percaya bahwa kejadian teror tersebut merupakan rekaan orang kelompok tertentu yang ingin merusak citra Islam. Argumen kelompok yang kedua ini bunyinya kurang lebih begini:

“Di dunia ini ada konspirasi yang ingin memojokan citra Islam dan umat Islam. Para konspirator ini kemudian menciptakan semacam grand strategy agar Islam dan umat Islam nampak buruk di mata orang. Kemudian dibuatlah berbagai macam tragedi (salah satunya dalam bentuk teror) yang akhirnya dapat mencemari nama Islam dan umat Islam.”

Membaca status kelompok yang kedua ini sering membuat saya gregetan. Argumen mereka mengingatkan saya pada para pemikir new-Left di Barat, minus data-data. Kelompok new-Left, seperti Noam Chomsky, sering mengkritik habis-habisan pemerintahan Barat. Kelompok ini, alih-alih memerangi musuh bersama yang mengancam peradaban Barat misalnya, mereka malah berargumen bahwa penjahat sebenarnya adalah justru orang yang sering berteriak kencang tentang HAM dan Demokrasi. Begitu juga dengan kelompok apologist di Indonesia. Mereka mengakui bahwa perilaku teror tersebut adalah tidak islami, namun mencari-cari argumen tentang adanya konspirasi yang ingin mengadu domba dan menghancurkan umat Islam. Kelompok apologist ini ibarat orang yang menonton rumah kebakaran. Bukannya sibuk membantu memadamkan api, mereka malah diam, sibuk berteori tentang sebab adanya api. Saran saya, tundalah dulu semua jenis whataboutery. Sekarang ini api radikalisme ini harus segera dipadamkan dengan segera.

Oke lah, kalau mereka tidak mengakui bahwa kejadian teror di Surabaya adalah bukan bagian dari ajaran Islam. Atau mereka in denial bahwa dalam tubuh umat Islam ini ada yang sakit, dan penyakit ini dinamakan radikalisme. Silakan, kalau mau percaya bahwa kejadian teror tersebut diorkestrai oleh orang atau kelompok tertentu. Tapi ada satu hal yang tidak dapat dibantah. Para pelaku teror ini begitu yakin dengan perbuatannya. Dengan kata lain, ada teologi atau kepercayaan yang memback up mereka sehingga mereka melakukan kejahatan teror tersebut. Pertanyaan yang patut dilontarkan pada kelompok apologist ini adalah, jenis teologi apa, selain teologi kaum jihadis, yang membuat mereka tega melakukan perbuatan keji semacam itu?

Andaikata mereka korban pencucian otak atau sejenisnya, baik itu yang dilakukan oleh kaum radikal ataupun konspirator lainnya, bukankah tugas kita semua agar selalu saling mengingatkan dan menjauhi kekerasan dan radikalisme, supaya terhindar dari pencucian otak? Poin yang ingin saya sampaikan adalah, berhentilah mencari-cari penyebab atau berteori tentang adanya konspirasi. Sampai kapanpun hal tersebut akan sulit ditemukan jawabannya. Kutuklah setiap perbuatan teror. Jauhi dan kubur dalam-dalam setiap bentuk argumen yang membenarkan kekerasan. Sehingga siapapun tidak mudah terjerambab ke dalam gerakan radikal/pencucian otak.