cover

Sebagai makhluk sosial, Manusia senang bergaul dengan manusia lainnya, khususnya dengan mereka yang memiliki banyak persamaan. Oleh karena itu, manusia senang bergaul dengan orang yang satu pemahaman, pemikiran, satu budaya, satu agama, atau satu ideologi. Karena pada hakikatnya, manusia cenderung merasa nyaman bergaul dengan orang yang memiliki kesamaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat dengan mudah dijumpai. Anak-anak cenderung bergaul dengan anak-anak lain yang memiliki persamaan. Suka atau tidak, hal ini cenderung berlanjut hingga dewasa. Orang cenderung berteman dengan mereka yang memiliki kesamaan latar belakang. Karena persamaan inilah yang membuat mereka dapat tersambung secara emosional. Menurut David Brooks seorang kolumnis dari “The New York Times” yang berhaluan konservatif, manusia cenderung kawin dengan mereka yang memiliki kesamaan fisik dan latar belakang. Opposite attraction merupakan hal yang langka. Jika itu terjadi, maka itu adalah suatu pengecualian. Bukan suatu yang normal atau mainstream.

Di Indonesia, orang sering kali memperbincangkan pasangan yang sedang pacaran atau sudah menikah dengan ungkapan: “mereka memiliki kesamaan wajah”. Ini ternyata bukan khayalan semata. Atau misalnya kenapa artis selalu memiliki pasangan yang juga artis. Atau tokoh lain yang kurang lebih posisinya sama dengan artis. Misalnya olahragawan, politisi, aktor, aktris dan seterusnya. Argumen ini bisa terus berlanjut pada bentuk lain yang lebih besar. Misalnya suatu negara terbentuk karena ada persamaan sejarah, bahasa dan etnisitas dari penduduknya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Atraksi atau ketertarikan kepada orang yang memiliki pandangan yang sama ini juga berlanjut di dunia virtual. Pertama-tama orang berteman dengan orang yang sudah dikenal di dunia nyata. Namun, dunia maya seringkali menunjukan warna lain dari karakter seseorang. Di dunia nyata, si X adalah orang yang pendiam dan malu-malu. Namun di dunia maya, dia ternyata adalah seorang pendebat yang bersemangat.

Media sosial sering menunjukan karakter lain yang tidak terlihat di dunia nyata, yang terkadang itu merupakan perwujudan karakter asli dari seseorang. Karakter-karakter asli yang ditunjukan oleh media sosial mendorong orang untuk bergaul dengan orang yang memiliki persamaan. Orang yang cenderung relijius di dunia nyata, maka akan mengalami kedekatan dengan orang yang sama-sama relijius di dunia maya. Sebaliknya, orang yang cenderung sekuler, maka akan memiliki kedekatan dengan orang lain yang juga sekuler.

Bergaul dengan orang yang memiliki kesamaan pandangan dapat mengurangi gesekan. Dalam hal kritikan, manusia akan merasa sedikit sekali tersakiti ketika yang menegur adalah anggota dari satu grup. Dalam hal kompetisi, mereka tidak akan merasa tersaingi ketika yang menang masih orang yang sama dengan dirinya. Tribalisme seperti ini bukan hanya berlaku di masyarakat tradisional, melainkan juga di masyarakat modern yang individualis.

Beberapa pemilihan umum yang terjadi di Indonesia telah mendekatkan beberapa orang yang berjauhan dan menjauhkan orang-orang yang dulunya berdekatan. Pemilu 2014 dan Pilgub Jakarta ditandai dengan “friend” dan “unfriend” yang marak di media sosial. Penyebabnya adalah tribalisme manusia itu sendiri Yang diperkuat dengan kehadiran Algoritma.

Seorang Ilmuwan muslim berdarah Persia, Muhammad Al-Khwarizmi, mungkin tidak pernah berpikir bahwa hasil pemikirannya akan berdampak sangat luas dalam kehidupan manusia modern. Al-Khwarizmi adalah salah satu ilmuwan abad pertengahan yang sering dibangga-banggakan oleh kelompok konservatif muslim saat ini. Jika kelompok konservatif disindir bahwa umat Islam terbelakang dalam hal Sains dan teknologi, atau disindir masih memakai Facebook yang notabene buatan kafir yahudi, maka balasan terhadap ejekan dan sindiran tersebut langsung melesat jauh seribu tahun ke belakang. Argumen mereka adalah: Algoritma adalah hasil pemikiran ulama Islam – Al Khwarizmi, jadi Facebook – atau media sosial lain yang menggunakan Algoritma- secara tidak langsung adalah hasil karya muslim.

Logika seperti ini sebenarnya kurang tepat jika disematkan pada temuan modern semacam Facebook. Korporasi besar seperti Facebook tidak bergantung hanya kepada Algoritma saja, tetapi juga berbagai jenis pengetahuan lain yang terakumulasi dari sejak zaman baheula sampai sekarang. Pertanyaan untuk kelompok konservatif muslim di Indonesia adalah, setelah Al-Khwarizmi and the gank tiada, apa lagi kontribusi umat Islam kepada dunia? Karena mayoritas penemuan modern sekarang lebih dekat kepada hasil pencerahan Eropa ketimbang peradaban Islam pertengahan. Setelah cahaya pencerahan pindah dari Dunia Islam ke Barat, apa kontribusi nyata umat Islam sesudahnya?

Kelompok konservatif dalam tubuh umat Islam sering bangga dengan pencapaian umat Islam pada zaman dahulu. Akan tetapi, ada banyak perbedaan antara ilmuwan muslim zaman dulu yang mereka bangga-banggakan dengan konservatisme muslim masa kini. Ilmuwan muslim yang ahli filsafat, matematika dan seterusnya adalah ilmuwan yang lumayan bisa dibilang ‘progresif’ pada masanya. Mereka terkumpul dalam sebuah institusi yang bernama “Bait Al-Hikmah”, di bawah pengawasan penguasa Abbasiyah yang mendukung paham Muktazilah. Banyak juga para ilmuwan muslim tersebut yang beraliran Syi’ah (Imamiyah ataupun Ismailiyah) yang oleh muslim sekarang sering diejek “Syi’ah bukan Islam”.

Ilmuwan muslim zaman dahulu juga berpikiran terbuka dengan ide-ide dari luar. Mereka tidak akan sampai pada zaman keemasan jika tidak dibantu dengan karya-karya terjemahan produk peradaban sebelumnya. Baik itu dari peradaban Yunani, Romawi, Hindustani, Mesir, Persia dan lain-lain. Ini bertolak belakang dengan konservatisme muslim masa kini yang sepertinya alergi dengan segala sesuatu yang berbau asing atau tidak islami: Membeda-bedakan mana yang hadharah dan mana yang madaniyah. Jadi tidak tepat jika seorang muslim yang konservatif membanggga-banggakan pendahulunya, yaitu kelompok ilmuwan muslim yang berhaluan progresif. Saya bilang progresif karena orang-orang seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Kindi, mereka menulis pengetahuan yang seringkali berada di luar pakem keislaman. Mereka tidak hanya meminjam pengetahuan dari luar, tapi juga mensintesiskannya dengan pemikiran keislaman. Ergo, sudah tepat jika kelompok konservatif membangga-banggakan pendahulunya dari kelompok tradisionalis, seperti Ahmad ibn Hanbal. Mereka punya banyak kesamaan. Sama-sama literal dan menyukai pekerjaan menghafal. Sebuah pekerjaan yang sekarang bisa digantikan oleh mesin. Jika kelompok muslim konservatif ingin meniru kejayaan yang pernah dimiliki oleh umat Islam zaman pertengahan, maka banyak sekali yang harus dirubah. Terutama sikap terhadap perbedaan dan khazanah dari luar lingkungan Islam.

Namun, fakta yang jelas seperti di atas, tidak akan mudah diterima oleh kalangan konservatif. Bukan karena mereka bodoh atau tidak terbuka pikirannya. Tapi karena mereka hidup di dunia dengan paradigma yang berbeda. Mereka tidak memerlukan validasi apapun dari dunia di sekelilingnya. Di era modern, perubahan paradigma semakin sulit karena orang yang berinteraksi di dunia maya semakin diperdaya dengan algoritma.

Algoritma sebenarnya sangat bermanfaat dan membantu memudahkan pekerjaan manusia. Dia membantu melihat data, membaca pola dan kemudian menyajikan keputusan dalam waktu yang sangat cepat. Tetapi di dunia maya, keberadaan algoritma justru hanya memperkuat pandangan, pemikiran dan paradigma seseorang atau suatu kelompok.

Karena hal ini, banyak orang yang kemudian menyalahkan perusahaan media sosial semacam Facebook dan Twitter yang katanya membuat masyarakat semakin partisan. Namun tudingan ini dibantah karena Facebook dan perusahaan media sosial lainnya tidak memiliki misi apapun selain menjadi platform untuk mempermudah interaksi antar manusia. Jika seseorang menjadi partisan, tribal dan parokial, yang menjurus pada perilaku ekstrem, maka janganlah menyalahkan media sosial. Tapi salahkan manusianya itu sendiri yang dari awal memang memiliki karakter tribalistik (sukuisme/etnosentrik). Misalnya, seseorang yang memiliki pandangan konservatif, maka dia hanya akan tertarik dengan berita-berita yang bermuatan konservatisme. Dia juga akan semakin dekat dengan orang-orang yang juga sepemahaman dengan dirinya, yang juga gemar membagi-bagikan berita konservatif. Jika berita dan status yang disukai dan dibagikan semuanya bermuatan konservatisme, maka algoritma akan menyajikan, secara dominan, berita dan status yang isinya konservatif.

Kepentingan media sosial adalah menjaga agar si pengguna media sosial dapat terus menghabiskan waktu selama mungkin di media sosial. Hal tersebut ditempuh dengan cara menyajikan konten yang disukai oleh si pengguna media sosial. Tugas algoritma adalah membantu menyajikan konten tersebut. Jika dunia virtual seseorang dipenuhi oleh berita yang hanya membenarkan pandangan dunianya, tentu sangat sulit bagi orang tersebut untuk mempercayai pandangan atau pemikiran lain. Keluar dari “echo chamber” (atau filter bubble) semacam itu tentu tidaklah mudah. Bukan hanya dorongan saja yang dibutuhkan, tapi juga alasan dan keberanian untuk dapat keluar dari penjara pemikiran sendiri.

Meski kritikan di atas sering ditujukan kepada kelompok konservatif, problem echo chamber sebenarnya juga sering terjadi kepada mereka yang mengaku liberal/progresif. Ini sebenarnya ironis karena orang liberal sering mengklaim dirinya sebagai kaum yang memiliki pemikiran terbuka. Tetapi, seperti yang ditunjukan oleh artikel di Vox, kaum progresif pun sering terjebak dengan filter bubble mereka sendiri. Mereka hanya mempercayai sumber berita tertentu, yang tidak jarang mengandung bias terhadap pemikiran tertentu. Akibatnya, mereka kesulitan memahami kenapa lawannya bersikap, bertindak, dan berpikir demikian. Kenapa fakta yang jelas sulit diterima oleh kelompok tertentu. Kenapa Bumi yang bulat tidak dapat diterima oleh kelompok yang percaya bahwa Bumi itu datar. Kenapa kegunaan vaksin dipertanyakan oleh kelompok anti-Vaksin, dan seterusnya. Untuk keluar dari lingkaran setan yang bernama echo chamber ini, maka dibutuhkan empati, sikap mau memahami kelompok lain yang berseberangan atau berbeda dari kelompoknya sendiri.

(Kutipan dari buku “Agama Digital“. Tersedia dalam bentuk ebook di Google Play dan Google Book).