images

Cita-cita untuk bisa menulis buku akhirnya tercapai juga. Buku sudah selesai. Sekarang sedang dalam proses editing. Dengan menulis buku, saya jadi tahu perbedaan antara menulis buku, essay, dan artikel. Kalau diibaratkan, menulis buku itu ibarat marathon. Perlu stamina dan persiapan mental yang kuat karena, garis finishnya lumayan jauh. Ini berbeda dengan menulis artikel atau essay yang bisa diibaratkan dengan lari sprint. Kalau stamina mendukung, maka itu dapat dikebut. Diselesaikan dalam waktu yang singkat. Tapi saya ingin mengesampingkan cerita penulisan buku ini. Saat ini, saya sedang dikejar-kejar oleh dua deadline assignments yang keduanya harus diselesaikan sebelum akhir April.

Seringkali saya tercenung di tengah berbagai kesibukan tersebut. Saya tahu saya harus menulis essay supaya saya dapat lulus dengan baik dari Universitas. Dengan lulus, saya tahu saya berharap dapat memperbaiki prospek di masa depan. Mendapat pekerjaan yang lebih baik dan seterusnya. Tetapi, dengan benturan tugas yang bertubi-tubi, beban bacaan yang banyak, serta kelas yang harus diikuti setelah selesai dari pekerjaan, kadang itu semua membuat saya kelelahan secara mental dan emosional. Dan itu baru dari satu aktivitas saja: kuliah. Belum aktivitas-aktivitas lainnya seperti pekerjaan, mengurus rumah dan masih banyak lagi.

Di tengah kelelahan tersebut sering saya bertanya, apa sih yang ingin saya capai? Malam-malam menyendiri  membaca “The Law of the Soviet State“. Kenapa saya tidak memilih untuk hidup santai saja. Tidak belajar, tidak membaca, tidak berolahraga, tidak berusaha untuk bersosialisasi, dan memilih pekerjaan yang tidak terlalu demanding. Intinya kenapa tidak nyantai saja dalam hidup ini? Tentunya saya bertanya pada diri sendiri tentang hal ini bukan karena saya orang yang selalu sibuk setiap detik, dan tidak pernah nyantai. Bukan. Yang saya maksud adalah sama sekali tidak mempedulikan tuntutan dunia, dan memilih melawan arus. Saya bisa saja melakukan hal demikian, meski bukan tanpa konsekuensi.

Kalau sudah berpikir tentang konsekuensi, pikiran saya langsung tertuju pada masa depan. Saya melakukan apa yang saya lakukan sekarang karena saya tahu ada hal yang ingin saya capai. Dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang. Intinya, ada hal yang dicita-citakan. Ada hal yang saya dambakan untuk terjadi dalam hidup saya.

Saya tahu bahwa motivasilah yang selama ini mendorong saya untuk terus maju. Ketika saya mengalami kelelahan secara mental, maka yang saya lakukan adalah dengan mengingat kembali, apa sih yang ingin saya capai dalam hidup ini?

Motivasi ini bisa datang dari berbagai sumber. Bagi sebagian orang, motivasi bisa datang dari keinginan untuk mengejar materi: Uang, Rumah, Kendaraan dan seterusnya (which is fine, materi bukanlah kata yang kotor). Bagi sebagian yang lain, motivasi bisa datang dari keinginan untuk mengejar prestige. Ada juga yang motivasinya datang dari sesuatu yang dianggap spiritual (Ibadah). Apapun bentuknya, motivasi itu adalah sesuatu yang mesti dirayakan. Karena itulah yang membuat kita hidup. Itu pula yang membuat kita bersemangat menyongsong hari esok.

Jika jiwa dan raga saya merasa lelah, maka saya membiarkan ia untuk istirahat sejenak. Yang saya lakukan biasanya adalah dengan membaca buku yang ingin saya baca di kindle, atau dengan memutar film di Netflix, atau merambah berbagai musik eksotis di Spotify. Pada suatu titik, saya yakin saya akan merasa bosan dengan semua itu dan kembali “bekerja” untuk mencapai cita-cita yang saya impikan. Di sini saya berpikir ternyata rasa bosan itu ada manfaatnya. Bayangkan jika saya tidak pernah bosan dengan Netflix misalnya, maka saya akan menghabiskan waktu 24/7 menonton film.

Bagi yang lain, untuk mengobati kelelahan mungkin dapat dilakukan dengan berolahraga, bercengkrama dengan teman dan keluarga, atau menyepi dan beribadah. Lakukanlah aktivitas apapun yang dapat mengobati kelelahan mental dan dapat kembali mengobarkan semangat.

Ketika saya merasa lelah, memikirkan esok harus bangun tidur, bekerja, belajar, berolahraga, tidur lagi, dan bangun lagi untuk mengulang semuanya di keesokan hari, saya sering mengingatkan diri saya bahwa inilah hidup yang saya pilih, dan saya bersyukur karenanya. Saya memiliki pilihan untuk tidak melakukan itu semua, tapi akan ada konsekuensi yang akan saya tanggung.

Konsekuensi hidup adalah rasa lelah dari aktivitas yang kita kerjakan sehari-hari. Jika saya tidak suka melakukan banyak aktivitas dalam kehidupan, saya sering mengingatkan diri saya bahwa itu ada tempatnya: Kematian. Peristirahatan abadi.