Gondok bukan kepalang. Nilai esai pertama yang ditunggu-tunggu selama lebih dari sebulan, akhirnya keluar juga. Skor 68 bukanlah nilai yang jelek. Tapi tetep dongkol karena itu hanya 2 digit untuk mendapatkan nilai dengan status distinction. Aaaargh! (Dalam hati). Tapi mungkin usaha saya memang belum maksimal, karena: Pertama essai dikebut ketika mendekati deadline ( Bukan SKS lho ya, tapi memang membaca dan meramu bacaannya itu yang lama). Kedua meski topik yang saya tulis lumayan saya nikmati, saya curiga masih ada kelemahan dalam bahasa inggris yang saya gunakan.

Antara Januari-maret ini adalah bulan-bulan yang lumayan berat buat saya, karena: pertama ada 2 mata kuliah yang saya ambil di termin musim semi ini. Otomatis beban bacaan-pun bertambah. Meski demikian, saya menikmati modul komparasi konstitusi yang diampu oleh Dr. Oscar Guardiola, orang colombia yang sangat antusias dalam mengajar. Di modul ini, dia mulai memperkenalkan para mahasiswa dengan Walter Benjamin dan Duncan Kennedy. Walter Benjamin adalah seorang essayist dan ahli filsafat Yahudi-Jerman yang juga merupakan salah satu pentolan madzhab Frankfurt. Sedangkan Duncan Kennedy adalah salah satu penggerak Teori Hukum Kritis dari Harvard (more stories later). Mendengar nama kedua orang ini saja membuat saya lapar mata untuk mendaras tulisan mereka. Namun mata kuliah lain, yaitu modul HAKI, saya merasa lumayan kecapekan. Saya pernah belajar HAKI sewaktu masih di bangku undergraduate, tapi itu sekitar hampir  10 tahun lalu. Selain itu tema yang dulu dipelajari masih bersifat praktis dan pendasaran. Beda dengan sekarang yang materinya sangat teoritis dan lumayan dalam karena mencoba mengkritisi pandangan HAKI dengan sudut pandang teori kritis.

Faktor kedua yang membuat bulan-bulan ini bulan yang berat adalah: saya berencana untuk menyelesaikan sebuah buku yang sudah ada di benak saya sejak lama. Saya ingin buku tersebut selesai pada akhir Maret dan mulai diterbitkan pada awal April (finger crossed!). Jadi setiap hari saya mencoba untuk disiplin mencurahkan gagasan yang ada di kepala kedalam komputer. Mencoba displin menulis bukan perkara mudah ternyata. Mereka yang terlibat aktif menulis tahu bagaimana gagasan tidak selalu mudah dikeluarkan. Menulis kadang lancar, kadang tidak. Menulis menjadi lancar ketika sedang mood. Atau ketika otak sedang panas-panasnya, penuh dengan ide yang berloncatan. Sialnya, hal ini kadang terjadi pada waktu yang kurang tepat (jam 3 pagi? C’mon!, saya butuh tidur, Brain!). Atau kadang jam 8 pagi ketika saya harus siap-siap berangkat kerja. Sedangkan ketika saya memiliki waktu luang sekitar jam 6 sampai jam  10 malam, otak saya tidak mau bekerja. Maunya melototin serial Friends yang sekarang lagi trending di Netflix :D. Di sini kadang saya merasa hopeless, merasa tidak bekerja dengan lebih keras lagi. Anyway saya akan kembali mengupdate perkembangan buku yang saya tulis di bulan April nanti.

Trivia 1: Iseng Googling School of Law di BirkBeck College. Ternyata sekolah hukum ini masih lumayan anyar dibentuk yaitu sekitar awal tahun sembilan puluhan. Salah satu pendirinya yaitu Professor Costas Douzinas masih hidup sampai sekarang dan merupakan politisi aktif dan anggota dewan dari partai Syriza di Yunani.

Trivia 2:Salah satu alumni hukum Birkbeck adalah baron Sidney Webb. Sidney belajar hukum di Birkbeck literary and scientific institution (jauh sebelum sekolah hukum Birkbeck berdiri). Dia bersama istrinya Beatrice kemudian mendirikan London School of Economic and Political Science (LSE).

Also, did I mention Eric Hobsbawm and Slavoj Zizek? Kurang progresif apa coba ini kampus. Beneran tempat mengasah otak. Moga ilmu yang didapat bisa bermanfaat untuk umat 🙂

(Sumber trivia: Wikipedia)