518618_ffa6842e65

Sudah lebih dari dua minggu ini saya kembali ‘ngampus’. Seperti yang pernah saya sebutkan sebelumnya, pada term ini saya hanya memiliki satu kelas, yaitu kelas Pengantar kepada sejarah, teori dan politik hukum konstitusi. Kelas pengantar hukum konstitusi yang saya ikuti terletak di gedung Friends House, gedung serbaguna yang juga merupakan kantor pusat kaum Quaker. Jemaat yang sudah memperkenalkan saya pada makanan sehat oatmeal si penangkal kolesterol.

Saya sangat menikmati kelas yang saya ikuti ini. Bukan hanya kontennya yang berbobot tapi juga pengajarnya. Kami dibimbing oleh orang yang sangat passionate dengan hukum konstitusi, Dr. Marinos Diamantides, orang Yunani yang dapat berbicara dalam tujuh bahasa. Beliau adalah ‘reader‘ sekaligus direktur program jurusan Hukum Konstitusi.

Pada pertemuan pertama setelah kelas induksi, kami membahas tentang sejarah Hukum Konstitusi di Barat. Dr.  Diamantides membukanya dengan memaparkan peran peradaban Yunani dan Romawi sebagai ‘Spiritual ancestors‘ peradaban Barat. Saya suka dengan istilah tersebut karena menggambarkan adanya pertalian erat antara masa lalu dengan masa kini. Namun demikian, pertentangan antara Raja dan agamawanlah yang menjadi bibit awal tumbuhnya gerakan konstitusional.

Pada pertemuan ini, saya menangkap satu hal, pergulatan manusia untuk membangun tatanan masyarakat yang beradab adalah pergulatan yang panjang. Manusia yang hidup sekarang diuntungkan dengan tatanan sosial politik yang boleh dibilang sophisticated, seperti sistem pemilu, Rule of Law, HAM, welfare state, market economy, Kebebasan media, yang semua itu adalah produk-produk dari era lampau yang sering kali diperlakukan secara taken for granted oleh manusia modern. Dibandingkan dengan masa lalu, hidup kita sekarang jauh lebih nyaman. Thomas Hobbes dalam bukunya Leviathan menggambarkan kehidupan pada masanya sebagai “Solitary, poor, nasty, brutish and short”- sepi, miskin, keji, brutal dan pendek.

Membaca sejarah hukum konstitusi juga membuat saya sadar bahwa evolusi bukan hanya terjadi pada wujud organik mahluk hidup. Tetapi juga pada institusi-institusi sosial, politik dan ekonomi di sekitar kita. Saya melihat bagaimana lembaga demokrasi seperti Pemilu dan parlemen misalnya adalah sebuah kemewahan manusia modern yang tidak terbayang oleh leluhur kita seribu tahun kebelakang. Manusia sekarang boleh saja mengeluh dan tidak puas dengan kelakukan politisi atau pemerintah yang berkuasa. Tapi setidaknya, ketidakpuasan kita masih bisa disalurkan lewat jalur legal yang lebih beradab. Bayangkan misalnya dengan manusia masa lalu yang kerap kali harus mengangkat senjata guna menggulingkan seorang tiran.

Pada pertemuan kedua, kami mulai membahas teori-teori klasik dari era pencerahan. Berbicara soal era pencerahan, mau tidak mau kami harus bersinggungan dengan tokoh dan karya monumental pada zaman ini. Tak pelak lagi tugas bacaan pun langsung menukik tajam. Buku teks yang mesti dibaca antara lain: Leviathan karya Thomas Hobbes, Two treaties of Government nya John Locke, dan The Social Contract nya J.J. Rousseau. Karya-karya tersebut tidaklah asing bagi orang Indonesia. Saya pernah mendengarnya secara kilat sewaktu masih duduk di bangku sekolah SMP dan SMA. Mengenal nama-nama tersebut setidaknya membuat saya tidak terlalu shock sekarang ketika nama tersebut kembali diungkit.

Jauh hari sebelum perkuliahan dimulai saya sudah mulai melihat-lihat modul di Moodle, sebuah ruang belajar virtual yang umum digunakan oleh mahasiswa di Inggris. Di Moodle saya melihat mahasiswa diwajibkan membaca karya klasik tersebut sebelum mengikuti perkuliahan. Problemnya, karya-karya tersebut tidak mudah untuk dicerna. Saya mencoba membaca dua bab dari Leviathan. Alamaaak susahnya! seperti kutipan di bawah ini.

“That every man, ought to endeavour peace, as farre as he has hope of obtaining it; and when he cannot obtain it, he may seek, and use all helps, and advantages of warre”.

Ejaan seperti Farre (Far) dan warre (War) tidaklah sedikit. Banyak ejaan lama lainnya yang bertebaran di Leviathan ini seperti himselfe, followeth, enemyes, liketh, intendeth dan masih banyak lagi. Awalnya saya mengira buku yang saya baca salah cetak atau memiliki kualitas yang buruk. Maklum buku Leviathan yang saya baca adalah buku gratisan yang saya dapat dari Amazon. Buku tersebut gratis karena sudah dianggap sebagai public domain. Namun setelah saya membuka Leviathan dengan format lain, ternyata memang begitulah gaya penulisan yang berlaku ketika Thomas Hobbes masih hidup. Bahasa Inggris pada zamannnya masih dipengaruhi oleh gaya bahasa Inggris lama (Old english). Rasa putus asa dalam mencerna karya-karya tersebut sedikit terobati karena pengajar saya nampak sabar dan bersemangat dalam menyajikan materi yang lumayan rumit ini.

Melalui kaca mata sejarah, umat manusia dapat melihat bagaimana segmen tertentu masyarakat (yang umumnya kaum elit) atau event tertentu di periode tertentu menjadi pemicu perubahan. Hal ini nampaknya masih terus berlangsung hingga sekarang. Perkembangan pesat di bidang sains dan teknologi akan memaksa konstitusi-konstitusi modern untuk bersikap fleksibel dalam menghadapi tantangan terbaru: Digital politics, Cyber Warfare, New identity politics, Financial crisis dst. Boleh jadi, dalam waktu dekat, kita akan menyaksikan perubahan besar yang akan merombak sepenuhnya konstitusi-konstitusi yang ada. Saya kadang merasa geli ketika membayangkan generasi masa depan yang hidup dua ratus tahun dari sekarang, ketika mereka melihat bagaimana primitifnya konstitusi manusia zaman sekarang.

Bulan depan, mahasiswa akan memasuki masa reading week, masa dimana mahasiswa diberikan waktu untuk membaca sekaligus mencerna materi kuliah yang sudah didapat. Pada masa reading week ini juga mahasiswa diwajibkan untuk mulai mendiskusikan topik essay yang akan ditulis sebagai tugas akhir mata kuliah. Saya tergoda untuk menelaah pemikiran Carl Schmitt seorang jurist asal Jerman yang jenius, namun di sisi lain juga memiliki sisi gelap karena keterlibatannya mendukung Nazi.