download (1)

Terus terang saya sangat gembira sekaligus khawatir dalam menghadapi era otomatisasi ini. Gembira karena mesin/robot/AI akan membebaskan umat manusia dari pekerjaan yang mundane, kasar dan membosankan. Gembira karena kita memasuki era baru dimana tenaga manusia dapat fokus pada kreativitas, menciptakan hal-hal baru yang sebelumnya tidak ada. Tetapi di sisi lain, saya juga khawatir. Khawatir dengan pertanyaan apakah pekerjaan saya aman dari ancaman otomatisasi? Apakah kita akan memasuki era otomatisasi dengan mulus? Atau sebaliknya terjadi kekacauan karena pengangguran merajalela akibat PHK masal atau perusahaan banyak yang tidak lagi membuka lowongan.

Otomatisasi akan membawa dampak yang positif yang tidak sedikit. Hal ini tidak perlu diragukan. Secara teori, ketika mesin menggantikan manusia, maka manusia dapat fokus pada kreativitas, passion dan inovasi – menciptakan hal-hal baru.

Para ahli menyebutkan bahwa sebelum mesin uap muncul dan peradaban manusia belum memasuki era revolusi industri, tenaga manusia (dan hewan) sangat mendominasi setiap jenis pekerjaan. Hal ini berlangsung ribuan tahun sejak dimulainya era pertanian. Kemudian manusia memasuki era revolusi industri dimana mesin dan peralatan berat lainnya membantu manusia dalam melakukan pekerjaan. Manusia beradaptasi dengan perkembangan teknologi terbaru. Hewan yang dulu membantu manusia mengangkut barang digantikan oleh kereta, kapal dan kendaraan lainnya. Hewan tersingkir. Manusia menemukan jenis pekerjaan baru sebagai operator mesin. Kemudian muncul era revolusi teknologi informasi yang menciptakan jutaan pekerjaan profesional seperti lawyer, akuntan, dan administrator.

Kelak di masa depan, ketika robot melakukan hampir setiap jenis pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sekarang, maka jenis pekerjaan baru akan muncul. Majalah Wired yang fokus dengan perkembangan teknologi terkini misalnya menyebut beberapa jenis pekerjaan baru yang akan muncul di masa depan seperti: Desainer VR/AR, ahli Nanoteknologi, pencipta sekaligus perawat spesies hewan langka, pekerjaan yang terkait dengan ekonomi luar angkasa dan lain-lain. Sedangkan situs Mashable meramalkan jenis pekerjaan yang lebih aneh lagi seperti pakar nostalgia, telesurgeon (ahli bedah jarak jauh), Pakar kesederhanaan (Karena hidup akan semakin tambah ruwet), pakar terapi euthanasia bagi yang sudah bosan hidup.

Semua jenis pekerjaan di atas terdengar gila untuk zaman sekarang. Sama gilanya jika generasi sekarang menjelaskan pekerjaan Social media manager atau App Developer kepada orang tua zaman dulu. Artinya akan ada banyak pekerjaan baru yang belum terpikir sekarang yang akan muncul di masa depan.

Bonus demografi di Indonesia jelas akan menjadi bumerang jika tidak ada kesiapan dalam menghadapi era otomatisasi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan demografi yang sehat. Namun jika jumlah manusia bertambah sedangkan jumlah pekerjaan berkurang, atau jenis pekerjaan baru belum muncul, maka yang timbul bisa jadi frustasi dan kekecewaan yang mengakibatkan instabilitas.

Meski banyak yang optimis bahwa otomatisasi akan membawa dampak yang positif, para ahli tidak sepenuhnya menampik kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Perkembangan teknologi terjadi sangat cepat sehingga ini menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan kita dalam menghadapi era otomatisasi. Dapatkah angkatan kerja sekarang menyesuaikan diri dengan cepat? Jika tidak apa solusinya? Lalu apa yang harus disiapkan oleh generasi mendatang supaya mereka siap dalam menghadapi era baru?

Untuk angkatan kerja sekarang, saya bisa mengutip saran para ahli bahwa retraining atau pelatihan kembali adalah sebuah keharusan jika ingin tetap relevan di era otomatisasi. Dengan kata lain, jangan pernah berhenti belajar, terus mengupdate skills dan pengetahuan supaya tidak dapat digantikan oleh robot.

World Economic Forum menyebutkan bahwa ada dua jenis keahlian yang akan sangat dibutuhkan di masa depan. Pertama adalah keahlian Matematika (atau sains dan teknologi untuk lebih luas lagi). Kedua adalah social skills. Keahlian pertama dibutuhkan hampir di semua sektor karena perkembangan teknologi akan merambah semua aspek kehidupan. Sedangkan keahlian kedua adalah keahlian yang dibutuhkan untuk sektor pekerjaan dimana teknologi memiliki peran minimal, dan human touch memiliki peran yang maksimal seperti guru, pelatih, perawat, terapis, penasihat hukum dan keuangan dan lain-lain.

Para pemangku kebijakan harus proaktif dalam menyiapkan generasi mendatang untuk menghadapi era otomatisasi ini. Andrew McAffee dalam bukunya The Second Machine Age, menuliskan sejumlah rekomendasi kebijakan yang komprehensif. Termasuk diantaranya merombak sistem pendidikan agar generasi mendatang dapat beradaptasi dengan dunia baru.

Pendidikan yang menekankan aspek STEMM (Science, Technology, Engineering, Maths and Medicine) adalah langkah awal yang baik. Sedangkan bagi mereka yang tidak terlalu berbakat di bidang ilmu-ilmu alam atau teknik, maka bukan berarti tidak ada harapan. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora pun akan tetap penting. Mark Cuban menyebutkan bahwa jebolan liberal arts akan sangat penting di masa depan. Sedangkan Yuval Harari pernah berkata bahwa filsafat akan banyak dibutuhkan guna menjawab persoalan-persoalan etis yang timbul akibat munculnya teknologi-teknologi baru. Terakhir, Bill Gates menyebut ekonomi sebagai salah satu bidang penting yang akan membuat seseorang sebagai the agent of change di masa depan. Tinggal dipilih.