Mengapa LLM? Jika pertanyaan tersebut dilontarkan sepuluh tahun yang lalu, mungkin saya akan diam seribu bahasa untuk menjawabnya. Sebagai seorang generalist, sulit bagi saya untuk fokus pada satu bidang ilmu. Tetapi jika ada orang yang bertanya tentang hal serupa sekarang, maka jawaban saya bisa menjadi esai yang panjang.

Birkbeck_College_library_desk_5_March_2016_04

(Birkbeck Library, Sumber foto: Commons.Wikipedia.org)

Saya pikir sudah banyak informasi yang menjelaskan apa dan bagaimana program magister hukum (LLM) di luar negeri. Salah satu tulisan favorit saya yang menjelaskan tentang LLM (dan bagaimana cara mendaftar) adalah yang ditulis oleh alumnus HLS dan NYU. Sila membaca postingan mereka yang cukup informatif. Namun sebagai gambaran singkat, LLM atau legum magister, adalah program hukum setara dengan S2 di Indonesia.

Program LLM di Inggris, sama seperti program LLM di negara Barat lainnya dapat diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun untuk program full time. Namun jika mahasiswa memiliki komitmen lain seperti pekerjaan, maka program ini dapat ditempuh dengan cara belajar paruh waktu selama dua tahun seperti saya.

Program master yang saya ambil tergolong program spesialis, yaitu hukum konstitusi. Judul panjangnya adalah “Constitutional Politics, Law, and Theory”. Ini ironis memang, saya belajar hukum konstitusi di Inggris, sebuah negara yang tidak memiliki konstitusi tertulis seperti Indonesia. Namun bidang yang akan saya pelajari nanti tidak terfokus pada satu jenis konstitusi saja. Tetapi mempelajari hukum konstitusi dilihat dari berbagai aspek lainnya.

Mengapa mengambil program hukum konstitusi, dan bukan program lain yang mungkin lebih bergengsi seperti perpajakan, perdagangan, korporasi, keuangan dan sebagainya. Jawaban singkatnya karena saya tidak menekuni profesi yang berkaitan dengan bidang-bidang tersebut. Meski saya tertarik dengan bidang perpajakan dan keuangan misalnya, aplikasinya dalam kehidupan saya sehari-hari akan sedikit sekali.

Pilihan saya untuk memilih hukum konstitusi adalah pilihan yang sudah saya rencanakan dengan matang. Saya menggemari isu-isu terkini yang sifatnya umum, terutama isu yang menyangkut bidang politik dan ekonomi. Belakangan, saya mulai menangkap ada isu yang lebih penting, yaitu percepatan kemajuan sains dan teknologi yang berpengaruh besar pada kehidupan manusia. Misalnya perkembangan teknologi di bidang Kecerdasan buatan, rekayasa genetis, keamanan cyber, atau semakin kuatnya pengaruh korporasi teknologi seperti Facebook, Google dan Amazon. Semua itu akan berdampak pada tatanan ekonomi, sosial, dan politik manusia di setiap negara. Saya melihat bahwa hukum dan kebijakan sangatlah lamban dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat dan dalam tersebut. Dengan mempelajari hukum konstitusi, saya ingin berkontribusi pada perdebatan yang sudah ramai diperbincangkan itu.

Pada program master ini, saya diwajibkan mengambil dua mata kuliah wajib dan empat mata kuliah pilihan (atau tiga mata kuliah pilihan plus thesis). Dua mata kuliah wajib yang akan saya ambil akan fokus pada bidang hukum konstitusi. Sedangkan untuk mata kuliah pilihan, boleh mengambil dari disiplin ilmu hukum apapun yang kita minati.

Mata kuliah wajib pertama adalah mata kuliah yang bercerita seputar sejarah, politik dan teori hukum konstitusi. Mata kuliah ini adalah mata kuliah pendasaran agar si mahasiswa memahami secara benar basis atau fondasi hukum konstitusi. Karena konstitusi modern banyak diilhami oleh dunia barat, maka mata kuliah ini sangat terfokus pada perkembangan teori konstitusi di Barat.

Sebagai seorang sarjana hukum lulusan Indonesia, saya pikir ini masih relevan karena konstitusi di Indonesia sedikit banyaknya dipengaruhi oleh peradaban Barat. Ditambah lagi para founding fathers kita pun banyak yang merupakan alumni pendidikan Barat. Maka wajar jika konstitusi yang kita miliki mencerminkan spirit perkembangan teori konstitusi di Barat.

Mata kuliah wajib lain adalah komparasi konstitusi. Untuk sekarang, saya tidak dapat bercerita banyak tentang mata kuliah ini karena saya belum mulai mempelajarinya. Namun gambaran besar yang saya tangkap adalah, mata kuliah ini akan bercerita seputar keberagaman konstitusi-konstitusi di dunia. Saya sangat tidak sabar mengambil mata kuliah ini karena di silabus yang saya baca, konstitusi-konstitusi dunia yang akan saya pelajari termasuk konstitusi dari negara-negara yang ‘eksotis’ seperti Iran, Israel dan Rusia.

Untuk mata kuliah pilihan, tahun ini saya hanya mengambil satu saja yaitu mata kuliah di bidang HAKI. Departemen hukum sendiri menawarkan lebih dari dua puluh mata kuliah pilihan dengan beragam disiplin. Dari mulai kriminologi, kesehatan, HAM, dan ekonomi. Orang dengan tipe generalist seperti saya pasti kalap. Dua minggu yang lalu, saya sempat stress ketika mengisi formulir untuk mata kuliah yang akan diambil, karena begitu banyak bidang yang ingin saya pelajari. Sedangkan program ini hanya membolehkan empat mata kuliah saja. Oleh karena itu penting sekali membuat rencana studi yang matang, dan kemudian berpegang teguh pada rencana tersebut. Saya sudah membuat rencana studi yang matang, dan saya masih gagal; menjadi kalap ketika melihat banyaknya pilihan mata kuliah.

Belajar hukum sebagaimana belajar bidang ilmu lainnya membutuhkan komitmen yang tinggi. Mereka yang mengambil program master hukum di Inggris diharapkan sudah siap dengan berbagai materi yang ditugaskan. Misalnya, meski saya mengambil program paruh waktu, beban bacaan yang saya hadapi tidaklah sedikit. Metode belajar hukum di sini sangat menekankan mahasiswanya untuk aktif. Dengan beban bacaan yang banyak tersebut mahasiswa diharapkan bisa berkontribusi di kelas. Dosen biasanya hanya memberi kuliah sepanjang 15-20 menit. Setelah itu mahasiswa diharapkan untuk aktif bertanya, menyanggah, berargumentasi, memaparkan pikiran dan seterusnya. Mereka yang terbiasa dengan metode disuapi, spoon feed, akan sedikit kesulitan beradaptasi dengan kultur “help yourself” .

Birkbeck sendiri adalah bagian dari jaringan perguruan tinggi yang memperkenalkan Studi hukum kritis, Critical legal studies, yaitu salah satu cabang dalam teori kritis. Perguruan tinggi lain yang mempunyai program serupa adalah Harvard, Georgetown, SUNY, Melbourne dan masih banyak lagi. Sebagai bagian dari jaringan teori hukum kritis, maka selain pengetahuan teknis, pendidikan hukum pun sangat menekankan pada aspek critical analysis atau bacaan kritis terhadap sistem dan teori hukum yang dominan. Sebagai seorang penggemar Hayek dan Friedman, tentunya ini merupakan tantangan baru bagi saya.

Inggris adalah salah satu negara yang menawarkan banyak sekali program LLM. Program master hukum di Inggris terbuka untuk semua lulusan sarjana hukum dari manapun. Namun jika anda bukan lulusan sarjana hukum, tapi ingin belajar hukum pada level magister, maka LLM bukanlah untuk anda. Untuk lulusan non hukum yang ingin belajar hukum biasanya diarahkan untuk mengambil gelar MA.

Program LLM di Inggris bukan termasuk program vokasi. LLM bukan tiket untuk menjadi solicitor atau barrister di Inggris. Jika mahasiswa di Inggris ingin menjadi lawyer, maka mereka harus mengambil program undergraduate di bidang hukum. Itupun tidak bisa langsung karena setelah lulus undergraduate, yang bersangkutan harus mengikuti pendidikan lagi, Legal practice course (LPC), selama kurang lebih antara 7 sampai 12 bulan. Untuk lulusan non hukum atau lulusan hukum luar negeri seperti saya maka diwajiban mengambil program konversi, Graduate Diploma in Law (GDL), selama kurang lebih satu tahun plus program LPC.

Lalu apa yang akan saya lakukan setelah selesai kuliah? Untuk sekarang, saya belum memiliki jawaban yang baku karena peluang karir di masa depan sangatlah luas. Saya hanya ingin memastikan bahwa dalam menghadapi era revolusi industri ke empat ini, saya memiliki pengetahuan dan keahlian yang relevan.