Birkbeck,_University_of_London

Musim gugur ini saya mencoba kembali ngampus setelah sebelumnya kandas berkali-kali. Tinggal di kota besar seperti London memang banyak sekali godaan dan tantangannya. Saya akan kembali menimba ilmu yang pernah saya geluti sewaktu belajar di tingkat sarjana dulu, yaitu ilmu Hukum. Minggu pertama di bulan Otober nanti, saya akan mengikuti induction di Birkbeck, University of London.

Birkbeck adalah salah satu konstituen dari University of London. University of London sendiri adalah perguruan tinggi dengan sistem collegiate, kampus federal, atau persekutuan antar kampus-kampus besar di kota London. Ini mirip dengan sistem University of California, atau SUNY dan CUNY di negara bagian New York, AS. Saat ini University of London memiliki 18 Institusi yang semuanya tersebar di Kota London (Dengan pengecualian Royal Holloway yang posisinya sedikit di luar batas kota London dan ULIP di Paris).

Menurut Wikipedia, sejarah Birkbeck sendiri dimulai sejak awal-awal abad 19. Universitas ini pertama kali diinisiasi oleh seorang penganut Quaker, Sir George Birkbeck, yang juga seorang dokter. Ia bersama kawannya, Jeremy Bentham, berdiskusi untuk mendirikan lembaga pendidikan bagi mereka yang bekerja. Siapakah Jeremy Bentham tentu tidak perlu dibahas disini. Mereka yang belajar ilmu-ilmu sosial dan humaniora pasti sudah hafal dengan nama yang satu ini. Namun yang jelas, saya sangat berterima kasih karena berkat orang-orang inilah, kelas pekerja seperti saya mampu untuk terus belajar.

Saya sangat beruntung bisa belajar di kampus ini karena beberapa alasan. Pertama, seperti yang saya sebut sebelumnya, ini adalah kampus untuk mereka yang bekerja. Saya dapat belajar tanpa harus meninggalkan pekerjaan karena waktu kuliahnya sangat mendukung: Petang-paruh waktu. Alasan kedua adalah letak kampusnya yang sangat, sangat strategis. Persis di tengah kota London. Akses kemana-mana sangatlah mudah. Dan terakhir dari segi kualitas, karena Birkbeck adalah bagian dari University of London, maka pengajarnyapun tidak jauh berbeda kualitasnya dari University of London lainnya.

Birkbeck memang tidak setenar ‘saudara dan saudarinya’ di University of London seperti: LSE, UCL, SOAS atau Queen Marry. Orang biasanya baru kenal dengan universitas ini setelah tinggal atau belajar lama di London. Hal ini dikarenakan Birkbeck identik dengan mereka yang bekerja sambil belajar, atau pelajar yang bekerja. Tetapi, Birkbeck bukanlah kampus eksklusif. Banyak juga mahasiswa yang belajar secara full time. Hanya saja, rasio mereka yang belajar Part time jauh lebih banyak. Sebagai catatan, mahasiswa internasional biasanya mengambil kelas full time karena peraturan imigrasi tidak memperbolehkan kelas part time.

Awalnya, alasan saya memilih kampus ini tentu karena persoalan situasi dan kondisi saya pribadi. Pertama saya tinggal di London yang membuat kampus lain di luar London tereliminasi. Kedua, saya bukanlah orang yang jenius. Gak jenius = gak ada beasiswa. Jadi saya bisa melambai good bye dengan kampus-kampus mentereng kayak LSE atau UCL. Pertimbangannya adalah, meski saya diterima di kampus-kampus tersebut, biayanya mahal sekali kalau gak ada beasiswa. Tak sanggup saya merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk dihabiskan selama satu tahun. Namun demikian, Birkbeck bukanlah kampus buangan. Justru sebaliknya, Birkbeck bak mutiara yang tersembunyi.

Selain sering mendatangkan orang-orang penting untuk memberi kuliah umum, Birkbeck juga memiliki sejumlah akademisi yang lumayan bersinar. Misalnya disini mengajar professor Adam Geary yang mengampu kursus Pengantar Common Law di Coursera.  Terus ada juga filosof kiri kenamaan, Slavoj Zizek, beserta istrinya Renata Salecl seorang ahli psikoanalisis.

Berbicara soal ‘kiri’, Birkbeck sendiri memang merupakan salah satu gudangnya. Sejarawan Marxist kenamaan, Eric Hobsbawm pernah menjabat sebagai presiden di Birkbeck. Bagi mereka yang doyan dengan diskursus teori kritis, setiap tahun London Critical Theory Summer School diadakan di Birkbeck dimana para pakar teori kritis dunia memberikan ceramah dan saling berdebat satu sama lain. Saya ingin sekali mengikuti kelas musim panas ini. Namun sayangnya kelas ini hanya diperuntukan bagi mahasiswa tingkat doktoral/riset.

Saya masih ingat tahun kemarin ketika salah satu pengajar memasuki ruang kelas dengan memakai t-shirt berwarna merah dengan gambar Karl Marx di depannya. Dengan gelombang religiositas yang melanda tanah air seperti sekarang, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika ada dosen yang berbuat serupa di Indonesia.

Kondisi yang nampak liberal ini bukanlah hal yang aneh, dan Birkbeck tidaklah sendirian. Universitas-universitas di Barat memang tergolong sangat liberal atau ke kiri-kirian. Yang mana ini justru membawa dampak positif karena kultur liberal membuat mereka terbuka dengan berbagai ide, paham dan temuan-temuan baru di berbagai bidang ilmu. Itu sebabnya kenapa universitas-universitas di Barat masih memimpin dalam peringkat terbaik universitas-universitas di dunia.

Keuntungan lain kuliah di Birkbeck adalah, saya juga memiliki kesempatan untuk mengikuti kuliah umum di kampus-kampus lain seperti LSE, King’s dan UCL yang diselenggarakan secara gratis. Birkbeck sendiri berada di kawasan Bloomsbury dan diapit oleh institusi-institusi besar seperti: SOAS, LSHTM dan UCL. Sistem kolegiat memungkinkan kita mengambil kelas, menggunakan fasilitas, atau melakukan join research di kampus University of London lainnya. Jarak Birkbeck ke kampus-kampus tersebut di atas tidaklah jauh.

Saya sudah tidak sabar lagi untuk mengikuti kelas pembukaan di minggu mendatang. Sambil menunggu, selama satu minggu ini saya memiliki kesempatan untuk membaca bacaan-bacaan wajib yang sudah disiapkan, “Law and Revolution: The Formation of the Western Legal Tradition” karya Harold J Berman, An Historical Introduction to Western Constitutional Law buah karya Van Caenegem, dan yang terakhir On the Rule of Law: History, Politics, Theory karya Brian Tamanaha.