download (2)

Anjuran agar film G30S kembali diputar adalah anjuran yang sia-sia. Kelompok masyarakat yang kritis tidak tertarik untuk menonton film tersebut. Sedang mereka yang percaya bahwa PKI bangkit kembali, tanpa menonton film tersebut pun sudah cukup histeris. Di era perubahan yang serba cepat ini, film lama semacam G30S sudah sangat tidak relevan.

Saya sendiri termasuk yang kurang antusias dengan film G30S. Bukan karena saya pro komunis. Bukan. Tetapi karena film tersebut adalah film jadul dengan kualitas yang sangat buruk. Film tersebut diproduksi di era delapan puluhan ketika generasi milenial masih pada unyu-unyu atau bahkan belum lahir. Dari kualitas gambarnya saja anda sudah bisa membayangkan. Ditambah lagi alur cerita yang monoton dengan durasi yang lumayan panjang. Sewaktu kecil saya lebih sering terlelap ketika film ini diputar di televisi.

Bagi generasi milenial, menonton film dengan tema-tema masa depan, terasa jauh lebih relevan. Ini bukan berarti bahwa film dengan tema sejarah tidak ada manfaatnya. Tetapi karena film yang bertema futuristik membuat kita berpikir tentang posibilitas yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Karena kemungkinan besar kita akan mengalaminya.

Misalnya, acara tv yang populer di kalangan anak muda di barat saat ini adalah Black Mirror. Black Mirror merupakan potongan-potongan cerita pendek tentang masa depan dimana teknologi sudah sangat maju dan merambah setiap sudut kehidupan manusia: Lensa kontak yang mampu merekam, Virtual reality, sampai dengan isu keamanan cyber.

Salah satu episode Black Mirror yang membuat saya terkesan sekaligus ketakutan adalah episode dimana masyarakat menerapkan sistem rating melalui media sosial. Sama seperti sistem rating yang dipakai hotel. Kurang lebih mirip Instagram yang dikawinkan dengan Tripadvisor. Bedanya, sistem ini diterapkan pada manusia.

Seperti hotel, sistem tersebut memiliki peringkat bintang satu sampai dengan bintang lima. Mereka yang memiliki bintang diatas empat, adalah kelas atas yang mendapat banyak kemudahan fasilitas yang tidak didapat oleh kelompok dengan bintang dibawahnya. Kelompok dengan jumlah bintang tiga atau lebih adalah kelas menengah. Dan mereka yang memiliki bintang di bawah tiga adalah kelas ‘proletar’.

Dalam seri tersebut, sistem keuangan tradisional sudah tidak lagi berlaku. Sebagai gantinya, transaksi digantikan dengan saling memberi rating satu sama lain. Jika puas dengan interaksi yang didapat, orang memberi rating tinggi – lima bintang – sebagai imbalannya. Dan sebaliknya jika terjadi interaksi yang negatif, orang akan memberi rating yang rendah atau satu atau dua bintang. Dengan kata lain, sistem rating tersebut juga berfungsi mengontrol perilaku manusia di ruang publik. Orang menghindari perilaku negatif guna menghindari rating yang buruk, dan berusaha berperilaku sepositif mungkin supaya mendapat rating yang baik (Nyaris sama dengan konsep Carrot and stick atau dosa dan pahala).

Hasilnya, kehidupan masyarakat yang nyaris terlihat sempurna. Bukan hanya dari segi penampilan luar saja (lingkungan, rumah, sampai pakaian semuanya berwarna pastel yang menggambarkan energi positif) tapi juga perilakunya. Namun di sisi lain, kondisi tersebut mengakibatkan sebagian individu merasa tertekan karena interaksi yang terjadi terkesan dibuat-buat. Mereka tidak dapat mengungkapkan kekesalannya secara alami karena apabila terjadi konflik, orang di sekitar akan memberikan rating yang rendah.

Acara tv seperti Black Mirror menggiring penontonnya untuk berpikir tentang persoalan futuristik. Bahwa kemajuan teknologi membawa banyak manfaat sehinggga mampu mentransformasi kehidupan masyarakat sedemikian rupa. Tetapi di sisi lain, kemajuan teknologi ini juga membawa sisi gelap yang membuat bulu kuduk merinding. Pasalnya, generasi pengguna Facebook, Instagram, Path dan sebagainya sudah akrab dengan media sosial di kehidupan sekarang. Namun, pengaruh media sosial di masa depan masih misteri bagi sebagian besar orang. Kita tidak tahu kuasa apa yang sanggup dilakukan media sosial di masa depan? Apa akibat yang muncul? Dan seterusnya.

Jika generasi sekarang ingin tahu tentang Marxisme/Komunisme/Leninisme, mereka tidak perlu mononton film G30S yang membosankan itu. Cukup membuka laman Wikipedia. Di sana tersedia lengkap informasi serta cerita negara-negara yang hancur akibat menerapkan sistem tersebut. Tapi jika mereka ingin tahu bagaimana media sosial telah ‘memanipulasi’ pandangan dunia mereka, dengan menyajikan berita yang hanya membenarkan pandangan merekamaka tidak banyak tayangan tv di Indonesia yang menggiring penontonnya berefleksi ke arah tersebut.