Pertama kali mendengar istilah otomatisasi sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu saya membaca tulisan Tim Urban, seorang blogger asal Amerika yang berbicara panjang lebar tentang Artificial Intelligence (AI). Tulisannya adalah sebuah bell pengingat bahwa peradaban manusia sedang dan akan menghadapi sesuatu yang besar. Secara tidak langsung, Tim Urban menyimpulkan bahwa Kecerdasan buatan adalah pedang bermata dua. AI dapat mengantarkan peradaban manusia kepada intergalactic civilisation, atau sebaliknya menjadi pelumat peradaban manusia.

Para ahli kecerdasan buatan sering membagi tantangan yang diciptakan AI ini kedalam dua tahap: Tantangan jangka pendek dan tantangan jangka panjang. Tulisan ini tidak akan membahas tantangan jangka panjang yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan. Sebaliknya, saya akan membahas tantangan nyata yang sifatnya jangka pendek yaitu Otomatisasi. Tantangan ini disebut jangka pendek karena dampak otomatisasi akan segera terlihat dan terasa oleh kebanyakan orang yang hidup sekarang.

Otomatisasi menurut ISA adalah pembuatan dan penerapan teknologi untuk memonitor dan mengontrol produksi dan delivery barang dan jasa. Otomatisasi dapat diterapkan hampir pada semua jenis industri. Dimulai dari transportasi, kesehatan sampai dengan pertahanan dan keamanan. Manfaat otomatisasi bagi industri sangatlah banyak. Salah satunya adalah meningkatkan produktifitas barang dan jasa yang dihasilkan. Dapat dipahami bahwa mesin, berbeda dengan manusia, tidak akan pernah mengalami sakit, mengeluh atau berdemo meminta kenaikan upah.

Demonstrasi yang dilakukan oleh para pekerja toll yang pekerjaannya terancam oleh otomatisasi adalah salah satu fenomena yang tidak lama lagi akan menjadi umum. Sebelumnya, saya sudah sering mendengar berita serupa di Inggris dimana otomatisasi menimbulkan kericuhan. Salah satunya adalah ketika perusahaan transportasi di London memutuskan untuk menggunakan robot dalam pengoperasian kereta bawah tanah serta menutup beberapa tempat penjualan tiket.

Otomatisasi juga sudah merambah dunia ritel dan perbankan di Inggris. Daily mail pernah memberitakan tentang banyaknya cabang bank di Inggris yang tutup karena pelanggan beralih menggunakan jasa perbankan online. Menurut laporan PwC, sekitar 30% pekerjaan di Inggris terancam oleh Otomatisasi pada awal tahun 2030an.

Automation

Sumber Foto: ILO

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut laporan ILO pada tahun 2016 kemarin, sekitar 56% pekerjaan di Indonesia tergolong high risk dengan adanya otomatisasi ini. Jenis pekerjaan yang sifatnya manual dan mengulang adalah jenis pekerjaan yang dapat dengan mudah digantikan oleh mesin seperti penjaga toko ritel, pom bensin, resepsionis dan sejenisnya. Hasil temuan ILO juga menambahkan bahwa kaum perempuan dan mereka yang memiliki tingkat pendidikan rendah adalah yang akan pertama menjadi korban otomatisasi.

Gelombang otomatisasi adalah hal yang sulit untuk dilawan. Berapapun banyaknya demonstrasi yang dilakukan oleh buruh, otomatisasi akan terus merambah memasuki berbagai industri. Pemerintah mungkin saja melakukan ikut campur dan menangguhkan penerapan otomatisasi. Namun cepat atau lambat, otomatisasi akan menjadi bagian dari kehidupan kita.

Menurut para ahli, tantangan otomatisasi ini berbeda dengan tantangan teknologi-teknologi sebelumnya. Perkembangan otomatisasi terjadi sangat cepat karena dibantu oleh teknologi kecerdasan buatan. Di masa lalu, penemuan teknologi tertentu bergerak lamban dalam mengubah kondisi ekonomi sosial suatu masyarakat. Lambatnya penerapan teknologi tersebut memberi ruang kepada masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Otomatisasi yang dibantu oleh kecerdasan buatan ini tidak memberikan ruang tersebut. Para ahli menyimpulkan bahwa cepatnya perubahan yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan tidak memberikan ruang bagi para pekerja yang terancam untuk mempersiapkan diri menghadapi era otomatisasi ini. Akibatnya sudah dapat ditebak, pengangguran besar-besaran diramalkan akan terjadi (Puncaknya diperkirakan akan terjadi sekitar tahun 2025).

Untuk menjawab tantangan otomatisasi ini, negara maju seperti Finlandia bereksperimen dengan ide Universal Basic Income. Ide ini banyak didukung berbagai kalangan baik dari kelompok kiri maupun kanan. Bos facebook pun pernah mengendorse ide UBI ini. Ketika jumlah pengangguran menggunung, dan ketika robot mengambil alih banyak pekerjaan manusia, memberikan tunjangan cuma-cuma adalah salah satu upaya mencegah peradaban manusia supaya tidak collapse. Solusi lainnya seperti yang direkomendasikan oleh Brookings adalah dengan mempersiapkan masyarakat dengan pendidikan dan pelatihan dan mereformasi kurikulum.

Saya sangat berharap bahwa siapapun yang berkuasa di Indonesia (Khususnya pemerintahan yang sekarang) dapat bertindak cepat dalam mengantisipasi era otomatisasi ini.