Salah satu perusahaan konsultan besar di dunia, PwC, memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi nomor 4 terbesar di dunia pada tahun 2050. PwC merilis laporannya pada bulan Februari kemarin. Agak telat memang, tetapi setidaknya saya ingin kembali mengingatkan tentang prediksi yang menggembirakan ini. Laporan yang dikeluarkan oleh PwC tersebut setidaknya menegaskan bahwa perekonomian negara kita memiliki prospek yang cerah.

Dalam laporan tersebut, Indonesia tidaklah sendirian. Beberapa kekuatan global lain turut bangkit dan merangkak naik ke posisi sepuluh besar. PwC mendeskripsikannya secara apik kedalam dua kubu. Kubu pertama adalah kubu yang selama ini dikenal dengan sebutan G7 (Group of 7, kumpulan negara maju yang sekarang anggotanya adalah Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Amerika dan Inggris). Sedangkan kubu kedua yang dinamai E7 (beranggotakan Brazil, China, India, Indonesia, Meksiko, Rusia dan Turki) adalah kubu yang termasuk kedalam Emerging Market Economies sekarang. Menurut laporan PwC, 6 dari 10 ekonomi terbesar pada tahun 2050 adalah angggota dari E7. Sedangkan dari anggota G7 sekarang, hanya Amerika yang bertahan di posisi atas (Nomor 3). Jepang, Jerman dan Inggris masing-masing menempati posisi ke 8, 9, dan 10. Sedangkan Perancis terdepak dari posisi sepuluh besar, terjun ke posisi 12 di bawah Turki (posisi 11).

Jika prediksi PwC itu menjadi kenyataan, tentu ini menjadi kabar baik bagi kita semua. Menempati posisi atas dalam kekuatan ekonomi global bukan hanya soal prestige. Menjadi salah satu ekonomi terbesar juga berarti meningkatnya taraf hidup rata-rata masyarakat Indonesia. Akan banyak warga Indonesia yang bertengger di daftar orang terkaya di dunia yang sering dirilis majalah Forbes. Pendeknya, di masa depan kita menjadi jauh lebih makmur dibandingkan dengan kondisi kita sekarang. Perlu dicatat bahwa prediksi PwC tersebut berdasarkan pada Purchasing Power Parity, yang menurut mereka dapat megukur secara lebih baik volume produksi barang dan jasa dalam sebuah ekonomi.

Namun dibalik ramalan manis tersebut, terdapat tantangan besar yang kita hadapi. Laporan yang dirilis oleh PwC tersebut hanya prediksi, bukan sesuatu yang pasti terjadi. Dalam laporan setebal 70 halaman itu juga ditulis tentang berbagai kondisi yang dapat menghambat realisasi pertumbuhan pesat ekonomi negara-negara E7. Contoh paling konkrit misalnya instabilitas politik. Pertumbuhan ekonomi yang baik membutuhkan kondisi perpolitikan yang stabil. Ekonomi sulit berjalan jika negara tidak aman. Melihat kondisi perpolitikan di tanah air sekarang, saya sangat berharap semua kericuhan yang terjadi di dunia maya tetap tinggal di dunia maya, tidak sampai melebar ke jalanan. Biarkanlah orang berdebat panas soal politik dan agama, selama itu terjadi di media sosial. Anggap saja itu bagian dari dinamika berdemokrasi. Yang penting jangan sampai terjadi perseteruan politik yang berujung pada kekerasan.

Tantangan lain yang membuat ketar-ketir adalah bencana alam. Sudah bukan rahasia lagi kalau Indonesia, tanpa bermaksud negatif, adalah negeri rawan bencana karena posisi kita yang berada di Cincin Api. Bencana alam yang besar dapat berdampak pada perekonomian. Saya sendiri kurang begitu tahu sejauh mana pemerintah Indonesia siap dalam menghadapi bencana? Strategi apa yang mereka miliki? Namun berita baiknya Indonesia adalah negara yang besar. Saya pikir tidak akan ada bencana yang dapat memporak-porandakan seluruh Indonesia (Kecuali perang nuklir atau terkena hantaman meteor. In that case, bukan cuma Indonesia yang kacau balau).

Tantangan ketiga bagi Indonesia, dan ini menurut saya adalah tantangan paling serius adalah tantangan Inovasi khususnya di bidang teknologi. Betul jika Indonesia itu adalah negara besar dan kaya. Besar bukan hanya dari segi luas wilayah, tetapi juga jumlah penduduknya. Dan juga kaya akan sumber daya alam. Pendeknya Indonesia hampir memiliki semua Ingredients yang diperlukan untuk menjadi salah satu kekuatan global. Tetapi ada satu jenis bahan yang kita masih kurang, yaitu inovasi. Jika nama Korea disebut misalnya, orang akan langsung ingat dengan Samsung dan Hyundai. Tetapi ketika nama Indonesia disebut, tidak ada gambaran spesifik tentang produk yang menjadi kebanggaan kita. Itu hanya salah satu contoh saja.

Minimnya inovasi di negara kita menurut saya adalah akibat dari beberapa faktor. Ambil misalnya faktor keterbukaan. Sikap terbuka adalah penting karena kita bisa belajar banyak dari luar, dengan prinsip mengambil yang baiknya dan menghindari yang jeleknya.

Saya tidak mengatakan Indonesia adalah negara tertutup. Bangsa Indonesia menurut saya tergolong bangsa yang cukup pragmatis. Banyak sekali ide-ide dari luar yang kemudian kita adopsi dan menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Namun ada beberapa aspek kecil saja yang perlu dibenahi, misalnya pembatasan kewarganegaraan ganda.

Pembatasan kewarganegaraan di era globalisasi ini cenderung counterproductive. Orang Indonesia yang mampu berkarya di luar seringkali ruang geraknya sempit karena mereka bukan bagian utuh dari negara yang ditinggalinya. Tetapi kembali ke tanah air juga kadang tidak menjadi solusi karena banyaknya hambatan. Sehingga transfer ide dan pengalaman menjadi terbatas.

Lihat bagaimana minimnya representasi orang Indonesia di kancah global, baik itu di dunia korporasi, akademisi atau hiburan. Kita sering bangga melihat si A, si B dan si C yang sukses di negara anu. Seolah-olah orang Indonesia yang sukses ada banyak dimana-mana. Tetapi itu semua jumlahnya masih kecil jika dibandingkan dengan diaspora asal India misalnya. Faktanya adalah, kita bisa mengingat mereka semua yang sukses di luar karena jumlah mereka yang tidak banyak. Sebaliknya jika banyak diaspora Indonesia yang sukses di luar, mungkin akan sulit bagi kita mengingatnya satu persatu. 

Ada banyak faktor penting lain yang menghambat inovasi, misalnya lemahnya perlindungan HAKI dan pembangunan infrastruktur yang lamban. Faktor lain seperti minimnya budaya literasi, kebebasan berpikir, serta sikap kritis juga berpengaruh. Saya sering sedih karena wacana publik di Indonesia masih didominasi isu-isu politik dan agama. Sedikit sekali misalnya diskusi panas yang membahas otomatisasi, perkembangan IoT dan digitalisasi yang merambah semua bidang. Atau persaingan ketat pembuatan Artificial Intelligence yang sedang mewabah. Atau membahas strategi dalam menghadapi Era Revolusi Industri keempat dan seterusnya.

Saya berharap penuh ramalan PwC tersebut menjadi kenyataan meskipun tantangan yang kita hadapi tidak sedikit. Laporan yang ditulis PwC tersebut juga menulis secara spesifik tentang Indonesia.

“In some cases (e.g. India, Indonesia, Brazil), we assume a slower rate of technological progress in the short term, but assume the pace of catch-up accelerates in the longer term as these countries strengthen their institutional framework”

Jadi fingers crossed, Indonesia menjadi kekuatan ekonomi global di masa depan.