Membaca The Age of Abundance dan The Rational Optimist, dapat ditarik kesimpulan bahwa dunia yang kita tempati semakin hari semakin baik dan mengalami kemajuan. Pendapat tersebut mungkin terdengar absurd dan mengada-ngada bagi sebagian orang. Sayapun dulu sering berpikir demikian. Mengamati berita di berbagai media, dunia yang kita tinggali semakin hari nampak semakin semrawut. Tetapi persepsi dan fakta sering kali berlainan. Jika persepsi kita mengatakan dunia semakin rusak, fakta yang terjadi justru sebaliknya. Kita hidup di dunia yang jauh lebih baik dari generasi nenek moyang kita manapun. 

The Age of Abundance yang merupakan hasil karya dua pemikir besar, Peter Diamandis dan Steven Kotler, berargumen bahwa kemajuan di berbagai bidang teknologi akan mengantarkan umat manusia kepada zaman keberlimpahan. Era tersebut ditandai dengan semakin banyaknya akses terhadap energi, informasi, pangan serta pendidikan. Secara umum umat manusia hampir tidak akan lagi mengalami kesulitan sebagaimana yang mereka hadapi pada era sebelumnya seperti kelangkaan pangan, obat-obatan atau kelangkaan energi. Sedangkan The Rational Optimist yang merupakan hasil karya Matt Ridley, seorang ilmuwan yang sangat dihormati di Inggris, bercerita bahwa perdagangan antar manusia, budaya dan peradaban menjadi faktor pemicu kemajuan manusia. Perdagangan memungkinkan manusia untuk melakukan spesialisasi dan pertukaran ide. Pada akhirnya kedua hal tersebut mengantarkan manusia kepada kemakmuran dan kemajuan di berbagai bidang. Perbedaan antara The Age of Abundance dengan The Rational Optimist adalah yang pertama melihat kemajuan manusia yang terjadi sekarang dan di masa depan sementara yang terakhir melihat kebelakang bagaimana kemajuan tersebut terjadi.

Kedua pandangan buku diatas bukan tanpa dasar. Badan penting seperti Bank Dunia yang sering merilis jumlah angka kemiskinan turut membenarkan argumen diatas. Menurut laporan Bank Dunia, angka kemiskinan terus menurun dari waktu ke waktu. Perhatikan bagan di bawah ini yang menunjukan semakin menurunnya angka kemiskinan ekstrim.

Capture.PNG

Informasi diatas hanya satu diantara gambaran tentang kondisi dunia yang semakin membaik. Ada banyak informasi lainnya yang mengkonfirmasi tentang keadaan ini seperti menurunnya penggunaan tenaga kerja anak, Angka kematian Balita, atau menurunnya angka pembunuhan dan kekerasan. Contoh gamblang yang dapat dipahami dengan mudah oleh setiap orang adalah bangkitnya ekonomi negara-negara di Asia. Kebangkitan ekonomi di negara-negara asia sudah mengangkat jutaan manusia dari kemiskinan dan mengantarkan mereka ke level middle class. Saya tidak akan mengambil contoh yang jauh seperti China yang sudah sering dijadikan sampel. Contoh yang konkrit adalah negara kita sendiri, Indonesia. Jika ada dari anda yang lahir sekitar era 80’an, maka bagan di bawah ini menunjukan bagaimana Indonesia telah berubah dari sejak era tersebut sampai sekarang.

Indonesia1983.png

Penulis sendiri tidak dapat menyangkal tentang zaman keberlimpahan dan kemakmuran ini. Ambil contoh sederhana kehidupan orang zaman sekarang yang dapat memiliki lebih dari satu pasang alas kaki dengan corak, merek dan kenyamanan yang berbeda. Bandingkan hal tersebut dengan orang tua kita, dua atau tiga generasi kebelakang. Jangankan sepatu mengkilat, memiliki lebih dari satu alas kaki mungkin merupakan suatu kemewahan bagi kakek saya yang hidup di awal abad 20.

Dalam aspek kesehatan orang yang hidup zaman sekarang jauh lebih baik dari orang yang tinggal seratus tahun kebelakang. Orang yang memiliki batu ginjal misalnya dapat dengan mudah diobati, karena kita sudah memiliki teknologi yang dapat menghilangkan batu ginjal tanpa operasi. Orang boleh saja sinis tentang mahalnya biaya kesehatan zaman sekarang. Tetapi setidaknya fasilitas tersebut tersedia walaupun harganya mahal. Sulit membayangkan bagi generasi nenek moyang kita yang tinggal di era abad 19. Bukan saja biaya yang tidak terjangkau, tetapi teknologi atau fasilitas kesehatanpun mungkin tidak ada.

Meningkatnya kemakmuran juga berdampak pada keamanan global. Angka kekerasan, pembunuhan atau peperangan besarpun semakin surut. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terdengar sangat janggal. Khususnya ketika orang mendengar banyaknya berita tentang konflik di Timur -Tengah atau serangan-serangan teroris di kota-kota besar. Tetapi jika dibandingkan dengan konflik yang terjadi di Abad 20, konflik di Timur-tengah sekarang masih kalah jauh. Disini kita perlu melihat perbedaan antara kondisi global secara umum dengan kondisi spesifik yang terjadi di waktu atau tempat tertentu. Fakta yang terjadi adalah persepsi manusia sering kali bias. Semakin berkurangnya angka kekerasan justru membuat insiden yang lebih kecil terdengar besar karena sering di gembar-gemborkan oleh media. Sebenarnya ada buku lain yang cukup terkenal (namun belum saya baca) yang membahas tentang hal ini. Buku tersebut berjudul The Better Angel of Our Nature: Why Violence has declined karangan Steven Pinker.

Kesimpulan yang ingin saya tarik adalah, kita hidup di dunia yang terus menerus membaik. Sandang tidak sulit didapat, pangan tersedia banyak, akses terhadap pengetahuan dan informasi sangat mudah, orang yang berpariwisata ke luar negeri semakin meningkat, peralatan elektronik melimpah. Saya masih ingat di awal 90 an ketika saya tinggal di sebuah kampung di Jawa Barat, dimana hanya ada satu rumah tangga saja yang memiliki televisi. Anak-anak berdesak-desakan untuk menonton acara si unyil. Lebih dari 20 tahun kemudian, hampir setiap rumah di kampung tersebut memiliki televisi. Kita sendiri sekarang sedang hidup di era kelimpahan hiburan. Era televisi mungkin akan segera lewat,diganti dengan era Virtual Reality dan Augmented reality. Saya tidak dapat membayangkan jika teknologi semakin maju, jenis hiburan apa lagi yang akan ada di masa depan. Jadi jika ada yang sering berkeluh kesah betapa sulitnya hidup di zaman sekarang, maka ingatkan bahwa kondisi masa lalu jauh lebih buruk dari kondisi sekarang.