Membahas isu keamanan tidak akan ada pernah habisnya. Setelah kasus bom kemarin di Jakarta, Media Sosial kembali diramaikan dengan postingan tentang bahaya kelompok muslim radikal (yang beda dengan kelompok muslim moderat yang anti dengan kekerasan). Ini tentunya bukan untuk pertama kalinya Indonesia berhadapan dengan isu terorisme. Sehingga kekhawatiran sebagian masyarakat akan bangkitnya kelompok radikal bisa dibenarkan.

Sebagian kelompok lain di Indonesia lebih khawatir dengan bangkitnya paham dan gerakan komunis. Ketakutan terhadap komunisme adalah isu lama. Tidak dapat disangkal bahwa ajaran Marxisme dan Komunisme tidak hilang sepenuhnya dari Indonesia. After all, materi yang kekiri-kirian banyak beredar di buku-buku dan di internet. Dan sebagaimana ide lainnya, tak seorangpun dapat menyensor atau menghilangkan keyakinan seseorang pada paham atau ideologi tertentu.

Namun yang patut dipertanyakan adalah, apakah sikap paranoid terhadap bangkitnya paham komunisme ini relevan? Marxisme dan Komunisme sebagai bentuk ajaran, memang ada dan tersedia di pasaran. Marxisme dan Komunisme yang terwujud dalam sebuah gerakan politik yang mengancam keamanan, perlu disangsikan.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas kelompok mana yang lebih berbahaya terhadap keamanan negara. Bangkitnya kelompok Islamis radikal kah atau gerakan komunis kah? Terhadap keduanya, pemerintah Indonesia harus terus waspada. Diluar kedua ancaman tersebut, ada ancaman lain yang sepertinya masih terabaikan atau kurang mendapat perhatian. Ancaman tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah ancaman kejahatan mayantara (Cyber).

Perkembangan teknologi, khususnya Teknologi Informasi, semakin hari semakin maju. Penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam berbagai aspek kehidupan sudah tidak lagi terelakan. Dahulu, mungkin cuma secuil saja dari aspek kehidupan kita yang berurusan dengan Teknologi Informasi. Umumnya terkait dengan pekerjaan. Tetapi sekarang Teknologi Informasi sudah merambah hampir setiap jengkal kehidupan kita (mengingat bagaimana hypernya masyarakat kita dalam menggunakan Media Sosial). Hal ini malah akan terus bertambah, bukan berkurang.

Kemajuan di bidang Teknologi Informasi tentu bukan tanpa resiko. Mereka yang berkecimpung di dunia TI sudah mengetahui hal ini sejak lama. Yang perlu dikhawatirkan adalah masih kurangnya kesadaran sebagian besar masyarakat kita akan bahaya atau resiko dari penggunaan TI ini. Tidak tahu siapa yang bersalah, para pegiat TI yang abai dalam membangun kesadaran tentang pentingnya keamanan di dunia Cyber, pemerintah yang terlalu sibuk dengan berbagai urusan, atau memang masyarakat kita sendiri yang belum dewasa dan masih disibukan dengan isu politik dan agama.

Isu keamanan Cyber bukanlah isu kecil. Kasus serangan Cyber massal kemarin yang sempat melumpuhkan sistem informasi di beberapa instansi di berbagai negara adalah salah satu contohnya. Serangan cyber yang berupa Ransomware kemarin sempat melumpuhkan komputer di beberapa rumah sakit NHS di Inggris, Salah satu penyedia sistem kesehatan terbesar di dunia. Bisa dibayangkan kepanikan yang timbul akibat serangan cyber tersebut.

NHS adalah salah satu organisasi besar yang sangat tergantung pada TI. Ketika serangan cyber terjadi Teknologi Informasi yang mereka gunakan sehari-hari tersandera, dan hanya bisa dipulihkan apabila membayar tebusan, yang mana hal ini adalah mustahil untuk organisasi sebesar NHS. Serangan cyber kemarin akibatnya berimbas pada proses berjalannya kegiatan pelayanan. dokter dan perawat  tidak dapat mengakses informasi yang diperlukan, penelitian terhambat, dan pasien terlunta-lunta. Ini tentu bukan perkara kecil karena urusan kesehatan berkaitan langsung dengan urusan nyawa dan kehidupan seseorang. Contoh diatas hanya satu contoh saja dimana kejahatan cyber bukan hanya membawa kerugian materil tetapi juga nyawa.

Kasus lainnya yang lumayan besar dan sekarang masih menjadi perbincangan hangat publik Amerika adalah kasus peretasan oleh peretas dari Rusia terhadap anggota partai Demokrat. Konon ini adalah salah satu penyebab kekalahan partai Demokrat pada pemilu 2016 kemarin. Ini adalah salah satu contoh dimana kejahatan Cyber bukan lagi urusan untung dan rugi, tapi sudah masuk ranah geopolitik dan kedaulatan negara.

Di Indonesia, isu keamanan cyber mungkin masih belum menjadi isu besar. Kasus-kasus kejahatan cyber yang terjadi masih tergolong ‘elitis’ dalam artian hanya berdampak pada segmen tertentu seperti, kasus peretasan terhadap situs perusahaan (Telkomsel) atau instansi pemerintah (Kejagung). Kasus tersebut nyaris tak terdengar gaungnya di kalangan bawah karena memang sedikit sekali dampak langsung yang bisa dirasakan oleh masyarakat.

Namun dengan semakin masifnya konektivitas dan penggunaan teknologi di berbagai bidang, disinyalir akan semakin banyak pula kejahatan cyber yang terjadi. Ini bukan sekedar omong kosong, tetapi tantangan nyata yang harus dihadapi dengan serius. Menurut salah satu pemberitaan, kejahatan cyber dapat menimbulkan kerugian mencapai 8 triliun dollar pada lima tahun kedepan. Ditambah lagi dengan jumlah data pelanggan yang dicuri yang dapat mencapai angka 2.8 Milyar. Sektor utama yang paling dirugikan tentunya adalah sektor bisnis.

Kalau dunia TI begitu mengerikan, lalu haruskah kita panik, menolak kemajuan TI dan kembali ke Era kertas dan pensil. Tentunya tidak demikian. Saya tidak mengajak untuk berantipati dengan kemajuan teknologi. Tidak. Karena selain pointless, menolak kemajuan teknologi adalah mustahil dilakukan. Kecuali kalau ada yang rela hidup seperti kaum Amish di Amerika.

Kemajuan di bidang TI seharusnya dibarengi dengan kesadaran akan pentingnya keamanan dalam penggunaan teknologi tersebut. Baru-baru ini pemerintah di Inggris membentuk sebuah badan khusus yang fokus menangani isu-isu keamanan Cyber yang dinamai dengan National Cyber Security Centre (NCSC). Lembaga NCSC ini bukan hanya sekedar penjaga gawang, tetapi juga merumuskan kebijakan strategi dalam isu-isu keamanan Cyber.Tujuannya jelas agar Inggris siap menghadapi tantangan keamanan cyber di masa mendatang. Negara maju seperti Inggris sadar bahwa ancaman keamanan di Era modern bukan hanya terjadi dalam bentuk fisik, tetapi juga virtual. Tidak menutup kemungkinan bahwa peperangan besar di masa depan bukanlah perang dalam bentuk fisik melainkan Cyberwar. Pertanyaan penting untuk warga Indonesia yang masih punya kesadaran adalah, apakah pemerintah dan masyarakat siap menghadapi tantangan ini atau masih terlalu sibuk dengan isu yang ilusif seperti bahaya komunisme?