Seorang ‘teman’ di facebook pernah membuat status panjang lebar. Intinya, dia mengkritik orang yang tidak punya latar belakang akademis tertentu berbicara tentang sesuatu yang diluar keahliannya. Status yang dia tulis ingin menegaskan bahwa orang tidak layak bicara kalau dia tidak memiliki keahlian dengan latar belakang akademis yang memadai.

Statement tersebut kembali mengingatkan saya tentang perdebatan ahli dan non ahli, antara elit akademis dan awam. Ahli di sini mengacu kepada seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam tertentu sebagai buah dari proses pembelajaran atau pengalaman yang sudah cukup lama. Seoarang dikatakan ahli jika dia bisa membuktikan track record, terutama dari segi akademis.

Kenapa konsep ahli begitu penting bukanlah pertanyaan yang sulit dijawab. Ketika sebuah masalah muncul, orang membutuhkan kepastian jawaban dan solusi. Jika masalah yang muncul cukup rumit, maka peran seorang ahli tidak lagi dapat dielakan.

Untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan oleh si ahli itu manjur, orang akan menggunakan ukuran. Ukuran tersebut bisa berbentuk banyak hal. Mulai dari latar belakang akademis, pengalaman, sampai dengan catatan prestasi (atau catatan yang sifatnya negatif seperti catatan kriminalitas). Semakin panjang gelar akademis (pengalaman atau catatan) yang didapat seseorang maka semakin tinggilah derajat keahliannya. Dalam aspek yang sifatnya negatif, semakin sedikit atau bersih catatan kesalahan yang dibuat oleh seorang ahli maka semakin dipercaya pula keahliannya (Misalnya seorang dokter yang sedikit sekali melakukan kesalahan medis akan lebih banyak mendapatkan kepercayaan).

Zaman dahulu seorang ahli biasanya terpusat pada satu figur tertentu (Kyai, Mpu, Kepala suku, Tokoh agama dll.) yang diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan (Jodoh, rezeki, agama dst). Tidak heran jika pada zaman dahulu banyak sekali polymath atau orang yang menguasai lebih dari satu jenis disiplin pengetahuan. Contohnya Ibn Sina, At Thusi, Ibn Rusyd.

Tetapi dengan semakin majunya perkembangan zaman, maka semakin berkembang pula pengetahuan. Akibatnya semakin banyak pula subjek pengetahuan yang harus dipelajari oleh seseorang. Oleh karenanya, model ahli yang sifatnya all in one seperti zaman dahulu sudah tidak lagi memungkinkan.

Orang yang ingin menjadi ahli di bidang tertentu harus konsisten memilih bidangnya. Jika seseorang ingin menjadi ahli hukum misalnya, maka dari sejak awal dia harus memfokuskan tenaga dan fikiranya pada bidang hukum. Mulai dari tingkat sarjana sampai dengan doktoral. Ini tentunya mustahil bagi si Asep atau si Anton yang ingin menjadi ahli di bidang hukum, fisika dan ekonomi pada saat yang bersamaan. Bukan saja karena banyaknya aspek pengetahuan yang harus dipelajari, tetapi juga sumber daya yang harus dikeluarkan.

Keahlian juga dipandang sebagai sebuah komoditas yang menguntungkan. Dari sini, munculah hegemoni pendidikan formal. Orang tidak bisa dikatakan ahli kalau dia tidak memasuki jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tertentu. Tentunya saya berbicara tentang keahlian di bidang displin ilmu modern, bukan black magic atau ahli perdukunan. Semakin bergengsi sebuah lembaga pendidikan, maka lulusannya pun semakin dipercaya. Elitisme tidak lagi dapat dihindarkan.

Tidak ada yang salah dengan lembaga pendidikan yang bagus, prestisius dan bergengsi. Di dunia yang ideal, semua orang mengharapkan jenis lembaga pendidikan demikian, dan setiap orang berharap bisa memasukinya. Tetapi faktanya kita tidak hidup di dunia yang sempurna. Lembaga pendidikan elit tidak dapat dijangkau oleh setiap orang. Namun berita baiknya kita hidup di dunia yang terus menerus berdialektika yang berusaha untuk terus menjadi baik.

Akhir-akhir ini, kemajuan di bidang Sains dan Teknologi memungkinkan setiap orang untuk belajar apa saja. Munculnya berbagai situs pembelajaran online seperti Coursera, Edx, Future Learn adalah kabar baik bagi setiap orang. Khususnya bagi mereka yang tidak bisa menempuh pendidikan tinggi formal karena berbagai halangan. Hanya dengan modal komputer, sambungan internet dan bahasa Inggris, orang bisa belajar berbagai subjek pengetahuan dari perguruan-perguruan tinggi bergengsi yang ada di berbagai belahan dunia.

Pendidikan online adalah salah satu bentuk teknologi disruptive karena mem-bypass pendidikan yang sifatnya formal-tradisional. Ilmu-ilmu ‘esoteris’ yang dulu hanya bisa dinikmati anak kuliahan, kini dapat diakses oleh berbagai kalangan hanya dengan modal tiga hal di atas.

Di era revolusi teknologi informasi seperti zaman sekarang, sikap elitis adalah arogan dan berbahaya. Pendidikan online sebagai buah dari kemajuan di bidang teknologi informasi telah memungkinkan meratanya akses terhadap ilmu pengetahuan. Sejauh mengenai substansi, pendidikan online tidak jauh dengan pendidikan tradisional. Sikap elitis, cuma-gue-yang-boleh ngomong-elu-enggak-karena-gue-belajar-ilmu-anu-di-perguruan-tinggi-anu, berbahaya karena sikap yang demikian oblivious terhadap dunia di sekelilingnya. Si A yang tinggal di pelosok, yang hanya bermodal pelajaran online boleh jadi menguasai rekayasa genetika yang berpotensi menjadi pahlawan umat manusia atau calon bioteroris masa depan. Ini tentu menimbulkan persoalan baru, persoalan kemanan,  yang akan dibahas di lain waktu.

Orang bisa menjadi ahli hanya dengan sambungan internet tentunya adalah statemen yang luar biasa. Para pengkritik pendidikan online biasanya bertumpu pada argumen bahwa pendidikan online tidak mampu memberikan pendidikan yang sifatnya ‘holistik’ sebagaimana pendidikan tradisional. Misalnya mereka berargumentasi bahwa pendidikan online tidak menawarkan keahlian lunak (soft skills). Sebagai contoh keahlian dalam berkomunikasi. Namun hal ini tentu dapat dibantah dengan mudah (disamping tentunya banyak sekali subjek tentang komunikasi yang bertebaran di Internet).

Di masa depan saya membayangkan orang bisa menjadi ahli apa saja tanpa harus menempuh jenjang pendidikan yang ribet seperti sekarang. Hard sciences sekarang bisa dipelajari oleh siapa saja, apalagi ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang kadang dianggap ‘cemen’ oleh sebagian orang. Sebaiknya, pasang mata dan telinga dengan tajam karena boleh jadi anak kemarin sore, yang sering dianggap tidak tahu apa-apa, yang hanya bermodal internet, dapat menjadi superstar, billionaire atau penjahat kemanusiaan.