Namanya Nathan, seorang pemuda berkebangsaan Israel. Nathan tinggal di metropolis London yang terkenal sebagai ‘melting pot‘, tempat manusia dari segala penjuru dunia berbaur. sebagaimana anak muda lainnya, Nathan senang hidup di kota besar karena banyaknya kesempatan, beragam hiburan dan kesempatan kerja.

Sehari-hari Nathan bekerja di sebuah cafe di pusat kota. Di sela-sela kesibukannya, Nathan juga sibuk mempersiapkan diri untuk belajar. Dia berencana untuk mengambil master di bidang Ilmu komputer. Jurusan yang aneh untuk seorang yang tidak memiliki latar belakang STEM, dan tidak bekerja di sektor yang bersangkutan. Ketika ditanya kenapa dia memilih jurusan tersebut, jawabannya adalah pragmatis: karena bidang tersebut sangat banyak dibutuhkan.

Latar belakang belakangnya sebagai sarjana dibidang Ilmu politik tidak membuatnya gentar untuk mempelajari hal-hal baru. Dia sendiri tidak memperoleh gelar sarjananya di perguruan tinggi konvensional. Melainkan di The Open university of Israel, semacam UT (Universitas Terbuka) nya Israel yang lumayan prestisius. Nathan sebagaimana kebanyakan pemuda Israel lainnya adalah seorang pembelajar yang ulet. Dia adalah cerminan dari mayoritas warga Israel yang menghargai pendidikan. Tidak heran kalau Israel menempati jajaran atas dalam daftar negara-negara yang paling berpendidikan.

Budaya literasi dan penghargaan yang tinggi atas pendidikan adalah hal yang umum bagi kebanyakan etnis Yahudi, khususnya yang berlatar belakang Askhenazi (Yahudi Eropa). Hal ini pula yang menjelaskan kenapa banyak etnis Yahudi yang meraih penghargaan Nobel. Budaya ini bisa ditelusuri jauh kebelakang dimana pembacaan Taurat adalah hal yang wajib untuk anak-anak Yahudi (The Chosen Few).

Faktor lain yang menjelaskan kenapa etnis Yahudi sangat menghargai pendidikan adalah sejarah penindasan yang sering mereka alami. Ketika penguasa tertentu yang lalim bisa merampas harta kekayaan dari komunitas Yahudi dengan gampang. Maka kebanyakan mereka memutuskan untuk berinvestasi pada pembangunan diri (personal development) yang tidak gampang dirampas (Misalnya mempelajari hukum dan keuangan atau menjadi dokter. atau seperti Nathan yang belajar Ilmu Komputer). Mindset yang cerdas, bukan? Lebih jauh lagi, budaya literasi ini bukan budaya yang dibangun kemarin sore, tetapi budaya yang sudah berumur sejak era romawi.

Berbicara soal penindasan, keluarga Nathan memiliki cerita sendiri. Nathan sendiri tidak lahir di Israel, melainkan di Denmark, negara Skandinavia yang jaraknya ratusan kilometer dari Israel. Orang tuanya besar di Denmark. Sebagaimana komunitas yahudi lainnya yang mendambakan pulang ke ‘Kampung halaman’ -Aaliyah- mereka pindah ke Israel ketika Nathan masih kecil.

Salah satu kakek Nathan berasal dari Bulgaria. kakeknya adalah seorang keturunan sephardhi, etnis Yahudi yang melarikan diri dari Spanyol (Andalusia) ketika terjadi reconquista. Sampai disini, saya dan Nathan tiba-tiba merasa seperti memiliki afinitas, pertalian sejarah. Nathan melalui garis leluhur kakeknya. Saya dari nostalgia sejarah umat Islam di Spanyol.

Ketika berbicara reconquista, yang terbayang adalah penyiksaan dan pengusiran secara paksa atas komunitas muslim dan Yahudi. Keduanya mengalami penindasan yang sistematis dari penguasa lalim pada zaman itu. Pengusiran dari Andalusia ini terasa lebih pedih lagi karena dalam berbagai literatur, Andalusia dibawah dinasti Islam sering digambarkan sebagai zaman keemasan. Dengan mudah kita membayangkan kalau Ferdinand dan Isabella sebagai penguasa Kristen yang barbar.

Mitos itu kemudian pupus sedikit demi sedikit. Dalam pandangan penduduk Spanyol, dinasti-dinasti Islam yang berkuasa di Iberia adalah orang Asing (utamanya Arab dan Berber). Sehingga, kekuasaan mereka atas Spanyol tidak ada bedanya dengan pendudukan Belanda atau Jepang atas Indonesia. Dengan kata lain: Imperialis. Ketika penguasa-penguasa Arab ini berkuasa, tidak semua penduduk Andalusia memeluk agama Islam. Sebagian besar masih memeluk Katolik, namun mengadopsi kebudayaan Arab (Mozarab). Bisa dibayangkan, misalnya, Indonesia yang mayoritas muslim, namun penguasa dan birokratnya adalah dari minoritas agama lain. Sedikit banyaknya hal ini menimbulkan ketidak sukaan.

Konon Nathan dan kakeknya tidak banyak berkomunikasi karena terhalang faktor bahasa. Nathan yang cuma fasih Hebrew dan Inggris, sedangkan kakeknya hanya bertutur dalam bahasa-bahasa latin (Ladino) dan bulgaria. Terjadi gap antar generasi yang jaraknya tidak begitu jauh.

Tahun ini, Nathan sibuk berbenah untuk menyambut liburan musim dingin (Natal). Dia memutuskan tinggal di London karena tiket pesawat untuk pulang ke negara asalnya sangat mahal ketika mendekati liburan. Sebagai anggota diaspora yang sudah terkenal sejak ribuan tahun lalu, tinggal di perantauan dan tidak pulang-pulang dalam jangka waktu yang lama adalah hal biasa.