Seperti biasa, sehabis pulang kerja, dalam waktu dua-tiga jam dalam sepekan, saya menyempatkan diri untuk mengikuti kuliah umum. London adalah kota yang sangat dinamis dilihat dari banyak sisi: ekonomi, budaya, politik dan sebagainya. Sehingga tidak mengherankan jika hampir setiap hari berseliweran event-event yang menghadirkan para ahli dan pembicara kondang. Mereka membahas banyak hal. mulai dari penggunaan Drone untuk membantu pembangunan di negara-negara berkembang sampai dengan kesehatan mental. Sangat disayangkan rasanya jika event-event berharga tersebut dilewatkan begitu saja.

Sore itu saya menghadiri pertemuan yang sudah saya ikuti secara istiqomah beberapa bulan belakangan. Setelah turun dari kereta bawah tanah di kawasan Liverpool Street yang sibuk, saya langsung menjejakan kaki ke arah Brick Lane. Sebuah kawasan yang sangat trendi di tengah kota London. Kawasan ini penuh dengan kerumunan anak-anak muda, Hipster dan Start up.

Dengan bantuan peta dari Google, saya memasuki gedung yang dari luar nampak biasa saja. Pertemuan yang saya hadiri diadakan di Newspeak House, sebuah pusat komunitas yang diperuntukan bagi mereka yang peduli dengan pertalian politik dan teknologi. Awalnya, tempat tersebut nampak lengang karena saya datang cukup awal. Namun setelah beberapa menit, para pengunjungpun berdatangan. Sehingga tempat yang tadinya kosong, kini menjadi berdesakan.

Ada tiga pembicara yang hadir pada sore itu. Pembicara pertama adalah David Woods seorang futurist yang sudah saya anggap seperti guru sendiri karena hampir setiap event dia di London saya datangi. Dia berbicara tentang etika secara global dan tantangan apa saja yang dihadapi oleh etika yang berlaku saat ini.

David Woods memaparkan konsep etika progresif secara umum. Etika dalam pengertian yang paling umum, menurut dia, berbicara tentang batasan-batasan yang disepakati secara bersama. Baik itu mengenai urusan yang kita sepakat untuk melakukannya (membayar pajak, mentaati hukum) atau urusan yang kita sepakat tidak melakukannya (melanggar lalu lintas, berbuat kriminal). Kesepakatan tersebut kemudian mewujud dalam bentuk peraturan hukum, perundang-undangan dan kebijakan.

Namun menurut Woods, manusia saat ini mengahadapi banyak tantangan baru. Tantangan tersebut khususnya datang dari kemajuan teknologi. Kita tahu bahwa teknologi memberikan banyak manfaat dan kemudahan dalam kehidupan manusia. Namun kita belum membiacarakan batasan-batasan apa saja yang patut diterapkan untuk mengimbangi perkembangan teknologi baru tersebut.

Misalnya apakah tanggapan hukum tentang pemilihan jenis kelamin pada embrio manusia? Sebagian dari kita akan berpendapat itu adalah sah-sah saja sebagai bentuk kebebasan yang harus kita rayakan secara bersama. Tetapi sebagian lain mungkin akan menggelengkan kepala karena gender selection dapat disalahgunakan dengan mudah. Khususnya ditengah masyarakat yang masih patriarkis, yang mengutamakan anak laki-laki ketimbang anak perempuan.

Problem lainnya menurut Woods, terkadang batasan-batasan yang dibuat di masa lampau menjadi kendala dan halangan yang tidak perlu. Berapa banyak kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi yang tersendat hanya gara-gara dianggap bertentangan dengan etika. Contohnya dalam bidang Stem Cells Research.

Tantangan terakhir adalah tentang landasan etika yang sudah ketinggalan zaman dan tidak mampu menjawab sama sekali kemajuan teknologi yang ada. Sehingga, batasan-batasan yang ada kemudian diacuhkan, dilabrak atau tidak dipedulikan sama sekali. Kita masih ingat bagaimana teknologi baru seperti Uber, Lyft atau GoJek di Indonesia menimbulkan banyak kericuhan. Pasalnya kita tidak memiliki aturan atau batasan untuk teknologi baru tersebut, sehingga sulit mengantisipasi efek yang akan terjadi di masyarakat.

Woods merumuskan empat tanggapan yang ada dalam menghadapi kemajuan teknologi. Pertama adalah apa yang sering kita sebut sebagai Gut feeling. Kita merumuskan jawaban etis dalam bentuk ekspresi “jijik”  atau menyenangkan. Namun Woods menegaskan bahwa ekspresi intuisi manusia sangat jauh dan tidak layak dalam menghadapi tantang baru. Selain subjektif, intuisi manusia pun sering berubah seiring dengan perkembangan zaman.

Respon lainnya adalah apa yang sering disebut sebagai Etika kaum TeknoLibertarian. Libertarian adalah sebuah konsep ideologi yang ingin meminimalisir peranan negara dan memaksimalkan peranan kebebasan individu. Kaum TeknoLibertarian menghendaki agar semua rintangan yang menghalangi teknologi terbaru atau entrepreneur yang bergerak di bidang tersebut harus dijauhkan. Mereka memiliki kepercayaan yang tinggi pada teknologi masa depan. Individu dan lembaga diharapkan mensejajarkan dirinya dengan percepatan teknologi.

Jawaban kaum TeknoLibertarian ini jelas mengundang bahaya. Jika tidak ada batasan sama sekali, maka bagaimana apabila teknologi terbaru tersebut jatuh kepada rejim yang bejat. Atau jatuh ketangan organisasi teroris. Misalnya penggunaan Killer robots atau Drone otomatis atau senjata biologis dan lain sebagainya.

Ketiga adalah apa yang disebut dengan etika kaum TeknoKonservatif. Ini merupakan antitesis dari kaum TeknoLibertarian. Jika kaum TeknoLibertarian menghendaki semua rintangan untuk dihilangkan; dan mempercayakan semuanya pada kemajuan teknologi, kaum Teknokonservative justru sebaliknya. Mereka tidak menghendaki kemajuan apapun. Khawatir kemajuan tersebut akan menimbulkan gangguan terhadap stabilitas, menyebabkan chaos. Kalaupun kemajuan teknologi itu dianggap perlu, maka harus dilakukan dengan sehati-hati mungkin. Sikap ini sering disebut sebagai risk avoidance, mengindari resiko jika perlu.

Menurut Woods, Etika TeknoKonservartif ini tidak kalah berbahayanya. Bayangkan berapa nyawa yang dapat diselamatkan apabila kita mengadopsi kendaaraan otomatis. Dan sebaliknya berapa nyawa yang melayang setiap tahunnya akibat kesalahan fatal yang dilakukan oleh pengemudi kendaraan manual. Pertanyaan pentingnya adalah, apakah kita akan merangkul kemajuan teknologi tersebut yang bermanfaat bagi banyak orang? Atau mempertahankan status quo yang bukan hanya merugikan, tapi juga fatal bagi kehidupan manusia.

Terakhir, adalah respon etika yang disuarakan oleh kaum TeknoProgresif. Etika terakhir ini mengambil jalan tengah antara TeknoKonservatif dan TeknoLibertarian. TeknoProgresif berpendapat bahwa merangkul kemajuan teknologi itu sebagai sesuatu yang perlu. Namun kita juga perlu memikirkan secara hati-hati apa efek dari kemajuan teknologi tersebut. Sikap yang ditunjukan oleh kaum TeknoProgresif adalah Risk Management, mengatur resiko yang dapat terjadi. Menurut Mazhab yang terakhir ini, Indvidu dan lembaga harus mengkalkulasi setiap kemungkinan, mengambil langkah kecil, mengobservasi, mempelajari secara seksama dan mengulangi nya kembali jika perlu.

Pembicara kedua adalah Stephen Minger seorang ilmuwan di bidang Bioeknologi yang juga mantan Chief Scientists di GE Healthcare. Berbeda dengan Woods yang melakukan pendekatan Pilosofis, Stephen Minger berbicara langsung dari pengalamannya sebagai seorang Ilmuwan di bidang yang ditekuninya. Stephen adalah seorang ilmuwan dengan penampilan yang eksentrik, lucu namun sangat cerdas. Dengan rambut panjang dikepang, Stephen menjelaskan bagaima dia sangat mengapresiasi Inggris. Sebuah negara yang cukup progresif di bidang pengetahuan, khususnya bidang Stem Cells research.

Pemaparan Stephen lebih kepada aksi nyata di lapangan. Menurut dia bidang Bioscience dan Bioteknologi sudah sangat maju sehingga kita bisa menciptakan Embrio hanya dari sel kulit manusia. Manfaat teknologi tersebut tentu akan sangat berguna bagi pasangan yang mandul atau pasangan sesama jenis.

Bidang Stem cells research yang dia geluti bisa menjadi penyembuh bagi banyak jenis penyakit dan kelainan. Dari slide yang dia paparkan, ada banyak penyakit dan kelainan yang semuanya berpotensi disembuhkan dengan Stem Cells. Mulai dari Kebotakan, Tuli, Kebutaan, Serangan jantung, Parkinson, Alzheimer dan lainnya.

Stephen Minger juga menyebutkan beberapa kemajuan teknologi lainnya seperti:

  1. Teknologi ‘omics’ pribadi. Teknologi yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan yang menawarkan jasa tes DNA dan kesehatan. Dengan teknologi tersebut kita bisa tahu potensi penyakit apa saja yang dapat timbul, diwarisi atau diwariskan ke anak cucu kita
  2. Wearable clinical devices atau alat kesehatan yang biasa dipakai sehari-hari seperti Fitbit
  3. Kecerdasan sintesis yaitu penggunaan AI untuk mendiagnosis penyakit
  4. Gene editing yang memungkinkan manusia mengatur jalannya evolusi spesies mahluk hidup di bumi (termasuk umat manusia sendiri)
  5. Pharmacological Enhancement atau obat-obatan yang dapat memaksimalkan kinerja organ manusia.
  6. Robots in healthcare atau penggunaan mesin di bidang kesehatan, termasuk operasi dan masih banyak lagi

Sebagian teknologi tersebut sudah hadir di tengah masyarakat. Sebagian lainnya hanya tinggal menunggu waktu saja. Seiring dengan munculnya teknologi baru, maka pertanyaan seputar etika pun akan bertambah banyak. Contohnya bagaimana teknologi tersebut diakses, apakah teknologi tersebut akan tersedia untuk semua orang atau hanya untuk kalangan tertentu saja? Siapa saja yang dapat mengakses data kesehatan jika konsumen menggunakan salah satu teknologi diatas? Sejauh mana kekuasaan saya dalam membatasi akses terhadap data kesehatan yang saya miliki dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Jika paparan Stephen menimbulkan kesan bagaimana banyaknya PR yang akan dihadapi oleh para pembuat kebijakan di seluruh dunia, maka paparan pembicaraan terakhir menggambarkan realita yang terjadi. Bagaimana sulitnya sinkronisasi antara kemajuan di bidang sains dan teknologi dengan kebijakan.

Pembicara terakhir adalah James Lawford Davies, seorang lawyer yang memiliki spesialisasi di bidang Teknologi Genetika. James memaparkan tentang sebuah kasus penelitian Donasi Mitokondrial yang mengalami banyak hambatan. Seorang ilmuwan yang hendak melakukan penelitian di bidang tersebut pertama-tama harus mendapatkan ijin dari pemerintah. Namun tidak adanya preseden hukum memaksa pemerintah untuk merumuskan aturan dari Nol. Sehingga, regulasi di bidang donasi mitokondria baru dapat diselesaikan setelah hampir tiga belas tahun. Dan itu terjadi di Inggris, sebuah negara yang boleh dibilang cukup progresif.

Saya tidak menghadiri acara tersebut sampai tuntas karena keburu lapar. Di tengah sesi tanya-jawab, saya akhirnya pamit untuk makan malam.