Melihat masa lalu khususnya yang baru saja terjadi selalu menjadi hal yang menarik. Karena itu memberikan gambaran pengalaman setahun yang kita alami, baik secara personal, regional, nasional maupun global. Memasuki tahun baru, seringkali saya bertanya, hal-hal apakah yang akan terjadi pada tahun ini? Nah, peristiwa-peristiwa pada tahun 2016 kemarin adalah jawaban atas pertanyaan tersebut pada tahun sebelumnya.

Mengawali tahun 2016, di level personal saya mengalami hal yang menegangkan sekaligus melegakan. Menegangkan karena saya harus kembali berurusan dengan imigrasi Inggris yang terkenal ketat, tetapi juga melegakan karena semua urusan itu berjalan dengan lancar. Bulan Januari tahun kemarin saya sedikit kegirangan ketika menerima surat dari departemen imigrasi, agak sedikit cocky, bahkan sempat menari-nari karena saking bahagianya.

Tetapi kebahagiaan itu kemudian terusik dengan munculnya berita-berita dari tanah air. Dimulai dengan kericuhan soal isu LGBT, merebaknya paham Komunis, isu serbuan tenaga kerja asing (China), sampai dengan isu penistaan agama. Semua isu tersebut sepertinya adalah litmus tes bagi Indonesia. Sejauh mana kita sudah memeluk modernisme dan globalisme?

Di satu sisi, Indonesia tidak bisa mengelakan diri dari globalisasi (khususnya globalisasi informasi) dan pengaruh luar. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat kita belum siap atau belum cukup dewasa untuk menerima hal-hal yang baru. Gencarnya serbuan ‘asing’ bagi sebagian orang adalah ancaman yang harus dilawan dengan kembali menegaskan identitas: budaya, agama atau nasionalisme.

Uniknya fenomena itu bukan hanya terjadi di Indonesia. Hal yang sama terjadi pula di negara-negara lain. Di Barat, fenomena anti globalisme merebak dengan sangat kuat. Faksi politik sayap kanan (Jauh) semakin memperkuat eksistensinya di negara-negara Eropa. Puncaknya, dua fenomena besar terjadi: di pertengahan tahun, Inggris memisahkan diri dari Uni Eropa. Mendekati Akhir tahun, Donald Trump, capres yang sangat dibenci oleh kalangan kiri dan liberal di Amerika memenangkan kursi kepresidenan.

Namun ada satu fenomena lain yang sangat saya perhatikan: yaitu pesatnya perkembangan sains dan teknologi serta pengaruhnya terhadap kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Sampai-sampai saya memborong buku yang terkait dengan perkembangan pesat teknologi ini.

Mendekati penghujung tahun 2015, saya tersandung pada sebuah artikel di Quartz tentang ‘Fermi paradox’. Artikel tersebut betul-betul memberi kesan yang dalam. Penulisnya adalah Karl Urban seorang blogger asal Amrik. Karena penasaran, saya kemudian menjelajah blognya (Wait buy Why) untuk menelaah lebih lanjut.

Karl Urban menulis tentang banyak hal : dari soal pertemanan, mobil otomatis, sampai dengan kecerdasan buatan. Tulisan-tulisannya tentang teknologi mendorong saya untuk mempelajari kembali aspek penting yang selama ini saya abaikan. Rupanya sudah cukup lama saya tidak move on dari sejak zaman SMA. Yaitu ketika saya memutuskan fokus dengan ilmu-ilmu sosial dan mengabaikan yang satunya. konflik dan dikotomi antara ilmu sosial dan ilmu alam masih membekas dalam jiwa saya. Karena Karl Urbanlah saya akhirnya memutuskan untuk mempoligami kedua jenis ilmu tersebut.

Kenapa saya menaruh perhatian khusus pada aspek ini? Karena dampak kemajuan sains dan teknologi akan jauh lebih besar ketimbang misalnya ‘merebaknya’ paham kiri di Indonesia. Saya berkata demikian karena yang pertama adalah fakta nyata di lapangan. Ketika Google DeepMind mengalahkan pemain Alpha Go terbaik di dunia, Indonesia senyap-sepi pemberitaan. Ketika muncul kegaduhan yang menuduh algoritma facebook sebagai biang polarisasi, Indonesia nampaknya sudah sejak lama menjadi korban.

Mengawali tahun 2017 saya kembali ingin berbagi lewat blog. Sudah sering keinginan untuk menuliskan pengalaman dan pikiran terbengkalai karena berbagai hal. Utamanya karena kesibukan sehari-hari.

Dulu saya berpikir jika memiliki pekerjaan yang mapan dan tidak melelahkan secara fisik, mungkin saya bisa menuangkan gagasan kedalam tulisan dengan mudah. Tapi kenyataannya, lelah pikiran tidak jauh beda dengan lelah fisik. keduanya sama-sama membunuh hasrat untuk menulis. Itu adalah pengalaman saya.

Setelah pulang dari kantor, keinginan untuk berpikir menuangkan isi pikiran itu ada. Tetapi sepertinya ada sesuatu yang menghalangi saya untuk menulis. Saya menyebutnya ‘kelelahan semu’. Secara fisik saya tidak betul-betul capek, tapi otak saya merasa capek untuk menulis.

Faktor lain yang juga menghambat adalah faktor ‘godaan’. Utamanya godaan untuk memutar film di Netflix atau melihat video di Youtube. Ditambah lagi godaan untuk browsing di Internet. Sebagai seorang pecandu informasi, saya tidak bisa hidup tanpa internet. Terlalu banyak tulisan dan berita menarik untuk dilewatkan begitu saja.

Melihat ke masa depan, saya kembali ingin meneguhkan keinginan saya untuk menulis secara konsisten. Baik itu lewat blog pribadi atau media lainnya. Tema yang akan saya tulis tidak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, yaitu seputar pengalaman dan pikiran pribadi.

Lewat artikel pertama ini di tahun ini saya ucapkan -Selamat datang 2017, saya tidak sabar untuk menyaksikan peristiwa apa saja yang akan terjadi pada tahun ini-.